INOVASI DI INDONESIA: PRESTASI, PELUANG DAN TANTANGAN

1.    Pendahuluan

Tulisan ini dibuat sebagai bahan kuliah sekaligus materi pemikiran serta sebagai tantangan bagi semua pihak termasuk para mahasiswa Program Corporate Development ke empat di Institut Manajemen Telkom. Sebagai bagian dari civitas akademika IM Telkom maka kita bersama ditantang untuk terus maju memberikan peran yang lebih besar kepada masyarakat nasional dan global. Hal ini sejalan dan menunjang pasal 45 UU RI nomor 12 tahun 2012 tentang Pendidikan Tinggi1 dimana “Penelitian di Perguruan Tinggi diarahkan untuk mengembangkan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi, serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan daya saing bangsa.”

Harapan saya semoga secara bersama-sama dapat  mengevaluasi dan meningkatkan peran kita masing-masing untuk lebih produktif lagi termasuk perannya dalam inovasi baik secara langsung maupun tidak langsung, di tengah perkembangan pesat Indonesia diantara negara-negara maju yang sedang mengalami kesulitan ekonomi yang masih berlangsung saat ini  serta Asia yang mulai menjadi pusat kemajuan ekonomi dunia.

Dalam tulisan ini akan diberikan gambaran secara umum potret prestasi dan masalah inovasi negara kita. Sifat tulisan ini baru sekadar pengantar yang dapat dikembangkan lebih lanjut agar diperoleh gambaran secara komprehensif.

Sebelum masuk pada gambaran mengenai prestasi inovasi Indonesia, berikut ini akan disinggung sekilas mengenai konsep universitas riset yang erat kaitannya dengan inovasi. Disamping berbagai institusi riset lainnya, universitas riset merupakan salah satu institusi dalam sebuah negara yang menghasilkan inovasi termasuk di Indonesia.

 

2.    Kriteria Universitas Riset.

Tema mengenai universitas riset sangat relevan dengan tema inovasi dalam tulisan ini, apalagi bila dikaitkan dengan laporan World Bank mengenai “The Road to Academic Excellence: The Making of World-Class Research Universities. Laporan tersebut mengemukakan ada enam kecenderungan utama dalam abad ke 21 yang sedang terjadi pada pendidikan tinggi global dimana salah satunya adalah munculnya negara-negara Asia sebagai pusat-pusat akademik baru (academic centers). Bagi IM Telkom serta perguruan tinggi lainnya di bawah Yayasan Pendidikan Telkom maka tema dalam tulisan ini merupakan sebuah dorongan untuk menjadi bagian dari Asia yang sedang muncul ke tingkat global seperti yang disebut dalam laporan World Bank tersebut.

Inovasi sangat erat kaitannya dengan kegiatan riset. Salah satu yang melakukan riset adalah universitas. Saat ini banyak universitas di Indonesia yang menyatakan cita-citanya menjadi sebuah universitas riset. Hal ini sangat baik dalam mengembangkan daya saing nasional dan tentunya sesuai dengan tema tulisan ini.

Beberapa konsep universitas riset telah dikembangkan oleh berbagai pihak di dunia ini. Universitas-universitas di dunia mengembangkan dirinya menjadi universitas riset menggunakan berbagai kriteria yang telah dikembangkan tadi. Carnegi Classification 2005 menitikberatkan pada intensitas riset yang dilakukan oleh sebuah universitas. Demikian juga The Assosiation of East Asian Research Universities (AEARU) dan International Alliance of Research Universities (IARU) masing-masing telah mengeluarkan kriterianya sendiri. Sebagai gambaran beberapa universitas menggunakan apa yang sudah dikembangkan institusi yang disebutkan tadi. Kriteria  AEARU dipakai oleh Universitas Beijing, Universitas Tokyo dan Universitas Seoul sementara beberapa universitas lainnya seperti Australian National University, Oxford, Cambridge dan NUS menggunakan IARU2.

The Academic Ranking of World Universities (ARWU)2 yang dikembangkan oleh Shanghai Jiao Tong University menggunakan indikator jumlah penghargaan Nobel yang diperoleh alumni dan staff pengajar, jumlah publikasi jurnal ilmiah dan jumlah jurnal yang dikutip serta performansi per kapita. Selain itu The Higher Education Evaluation and Accreditation Council of Taiwan (HEEACT)2  menggunakan  indikator produktivitas penelitian, pengaruh penelitian (jumlah pengutipan penelitian), serta jumlah publikasi jurnal dalam jangka waktu tertentu. Times Higher Education (THE)2 mengeluarkan lima kategori yang mencakup perbandingan pendapatan institusi yang berasal dari penelitian dengan partner industri dengan jumlah staf akademik; lingkungan belajar-mengajar yang terdiri dari rasio dosen dan mahasiswa; jumlah publikasi universitas yang dikutip akademisi; jumlah, pendapatan, dan reputasi penelitian; rasio staff internasional dan domestik serta rasio mahasiswa international dan domestik.

Di Amerika Serikat performansi universitas dinilai berdasarkan sembilan kriteria utama3 yaitu: Total Research, Federal Research, Endowment Assets, Annual Giving, National Academy Members, Faculty Awards, Doctorates Granted, Postdoctoral Appointees, dan SAT scores.

Dikaitkan dengan situasi di Indonesia, konsep universitas riset dapat dilihat sebagai sebuah cita-cita untuk menjadikan riset sebagai ujung tombak Tridharma Perguruan Tinggi dengan mewujudkan research based teaching serta research based public service/community engagement1.  Dalam hal ini riset yang dihasilkan di PT digunakan oleh para dosen dalam memberikan materi pelajaran di kelas kepada para mahasiswanya. Selain itu, riset-riset yang dilakukan di PT dimanfaatkan pula dalam kegiatan pengabdian kepada masyarakat atau juga melakukan riset pada kegiatan tersebut. Agar nyata manfaatnya maka perlu disadari oleh peneliti di universitas, materi riset sebaiknya berorientasi pada kebutuhan masyarakat.

 

3.    Cita-Cita Universitas Riset di Indonesia.

Banyak perguruan tinggi baik negeri maupun swasta di Indonesia yang memiliki cita-cita menjadi universitas riset. Namanya bervariasi seperti world class university, entrepreneurial university, centre of excellence dan lain-lain dimana di dalam nama yang dipakai tersebut sudah terkandung maksud besarnya peranan riset yang akan dijalankan oleh perguruan tinggi tersebut.

Dalam  Rencana Jangka Panjang UNPAD periode tahun 2007 – 20263 dengan visi “Menjadi Universitas Unggul dalam Penyelenggaraan pendidikan Tinggi Kelas Dunia” maka pada periode 2012 – 2016 UNPAD bercita-cita untuk menjadi Universitas Riset dan Pelayanan Bermutu (Research and Excellent Teaching University). Demikian juga di UI yang telah menetapkan target yang berhubungan dengan riset sangat besar seperti tercantum dalam KPI riset UI (2012-2017) pada tabel 1 dan 22.

 

Tabel 1. Indikator Utama Kinerja Kunci2

No

Substansi

1 Penambahan minimal 50 artkel pada jurnal internasional yang terindeks SCOPUS
2 Persentase anggaran riset 1% pertahun
3 Kolaborasi internasional mengalami kenaikan minimal 30% dari jumah yang dicapai di tahun sebelumnya.

Sumber: UI,2012, Arah dan kebijakan Research University

Tabel 2. Indikator Pendukung Utama Kinerja Kunci2

No

Substansi

1 Mencapai dan mempertahankan tingkat kompetisi hibah sebesar 1:3
2 Pencapaian dan mempertahankan seluruh seri jurnal Makara menjadi jurnal internasional
3 Menyelenggarakan pelatihan minimal 10 per tahun yang berkaitan dengan riset dan pengaabdian pada masyarakat

Sumber: UI,2012, Arah dan kebijakan Research University

Pada tahun 1990 PT. Telkom telah mendirikan Sekolah Tinggi Teknologi Telkom (STT Telkom) dan MBA Bandung yang fokus dalam bidang telekomunikasi dengan cita-cita menjadi center of excellent dalam bidang pendidikan teknologi dan manajemen telekomunikasi di Indonesia. Dalam perkembangannya, saat ini PT. Telkom melalui Yayasan Pendidikan Telkom telah memiliki empat PT yaitu Institut Teknologi Telkom (semula STT Telkom), Institut Manajemen Telkom (Berasal dari MBA Bandung), Politeknik Telkom dan STISI Telkom dengan hampir 18.000 mahasiswa. Saat ini, keempat PT tersebut sedang dalam proses penggabungan menjadi satu universitas yang diarahkan menjadi world class university. Dalam hal ini peranan riset akan menjadi andalan universitas ini sejalan dengan tuntutan industry ICT nasional dan global.

 

4.        Bagaimana Prestasi Inovasi Indonesia?

 Berikut ini diperlihatkan kemampuan inovasi secara nasional, sekaligus diperlihatkan beberapa faktor yang dapat menggambarkan performansi riset serta kualitas pendidikan secara umum. Yang menarik juga diketahui bagaimana posisi Indonesia diantara negara-negara lainnya. Dalam laporan The World Economic Forum mengenai The Global Competitiveness Report 2011-20124 dapat disampaikan sepuluh indikator posisi Indonesia relatif terhadap 142 negara yang di survei. Pada tabel 3 digambarkan posisi lima negara ASEAN sekitar Indonesia. Indonesia termasuk dalam kelompok peringkat 50 besar untuk indikator kapasitas inovasi (Capacity of Innovation/CI), Pengeluaran Perusahaan untuk Riset & Pengembangan (Company spending on R&D /CSR&D), kolaborasi universitas-industri dalam Riset & Pengembangan (University-industry collaboration in R&D/UICR&D) serta kualitas sistem pendidikan (Quality of The Educational System/QES). Sementara itu untuk indikator kualitas pendidikan matematika dan sains (Quality of math and science education/QMSE), kualitas sekolah manajemen (Quality of management schools/QMS) serta kualitas lembaga penelitian ilmiah (Quality of Scientific Research Institutions/QSRI), Indonesia menempati Peringkat 50-70.

Tabel 3 Rangking Lima Negara ASEAN Berdasarkan Bidang

No Negara

QES

QMSE

QMS

IU

BIS

IB

CI

QSRI

CSR&D

UICR&D

1 Singapore

2

1

8

25

21

7

22

12

10

6

2 Malaysia

14

23

27

40

62

60

19

24

13

21

3 Indonesia

44

53

68

117

103

108

30

55

31

41

4 Thailand

77

60

73

93

77

83

56

59

68

39

5 Philippines

61

115

55

88

88

76

95

106

85

83

Sumber: Klaus Schwab, 2011, The Global Competitiveness Report 2011-2012, World Economic Forum, Geneva,

Switzerland.

 

Khusus untuk indikator informasi teknologi baik dari segi Internet Bandwith (IB), Broadband Internet Subscribers (BIS) dan Internet Bandwith (IB) Indonesia menempati peringkat di atas 100.

Jadi kapasitas inovasi Indonesia termasuk tinggi yaitu pada ranking ke 30 di antara 142 negara-negara yang disurvei. Demikian juga dengan aspek pengeluaran perusahaan untuk riset & pengembangan menempati ranking ke 31. Jadi secara umum Indonesia sudah memiliki kompetensi yang memadai dalam riset dan inovasi. Hal ini juga di dukung oleh kemauan kolaborasi antara universitas dan industri. Namun bila di bandingkan dengan dua Negara tetangga yaitu Singapura dan Malaysia, Indonesia masih harus banyak dan rajin mengerjakan berbagai pekerjaan rumahnya. Cita-cita menjadi universitas riset seperti yang banyak ditunjukkan oleh perguruan tinggi Indonesia merupakan salah satu usaha mendorong prestasi inovasi agar lebih tinggi lagi.

Wakil Rektor Institut Pertanian Bogor Anas M Fauzi menyatakan “Indonesia menempati urutan ke-100 dalam indeks inovasi global pada 2012 sementara Singapura di urutan ke-3, Malaysia ke-32, dan Thailand ke-57. Indeks tersebut adalah kombinasi dari masukan yaitu antara lain kemampuan sumber daya manusia dan riset & pengembangan, serta keluaran berupa kemampuan menghasilkan produk yang dapat diserap pengguna.”5

Dalam konteks ASEAN khususnya menyongsong terbentuknya ASEAN Community pada tahun 2015 maka posisi daya saing Indonesia yang masih jauh dari negara-negara tetangga akan menyulitkan barang-barang dan jasa nasional bersaing nantinya. Wakil Ketua Umum Kadin Bidang Usaha Mikro Kecil dan Menengah dan Koperasi Erwin Aksa mengatakan “Pelaku usaha kecil dan menengah merupakan pihak pertama yang akan terkena dampak akibat kekalahan daya saing menghadapi produk impor. Ini menjadi catatan bagi Kadin untuk terus mengupayakan peningkatan kapasitas dan efisiensi UKM Indonesia, terutama menghadapi pasar tunggal ASEAN 2015.”5

Apa yang telah disampaikan diatas merupakan laporan badan internasional yang diperoleh dari sebuah survei pendapat beberapa responden di Indonesia. Berikut ini dapat dilihat data-data lainnya dari beberapa pihak yang relevan untuk melengkapi gambaran mengenai inovasi di Indonesia. Pada dasarnya negeri kita sudah menghasilkan berbagai inovasi dalam berbagai bidang. Sebagai contoh pada data yang ditampilkan oleh Kementerian Riset dan Teknologi, sejak tahun 2008 hingga 2012 yang masuk dalam riset unggulan berkisar pada angka 100 inovasi.6 Jika dilihat angkanya belum ada peningkatan yang berarti. Tidak jelas betul apakah memang yang masuk daftar dibatasi sekitar 100 buah saja. Namun saya memperkirakan banyak inovasi yang dihasilkan oleh putra putri Indonesia.

Dari sisi perguruan tinggi, Universitas Gadjah Mada Yogyakarta menawarkan 300 inovasi dan hasil riset kepada industri dan Badan Usaha Milik Negara untuk dikelola dan dikembangkan dalam rangka peningkatan daya saing industri. Beberapa inovasi dan hasil riset UGM yang ditawarkan di antaranya bidang industri kesehatan dan obat-obatan, ketahanan pangan, sumber energi baru dan terbarukan, teknologi dan manajemen transportasi, teknologi pertahanan dan keamanan, dan teknologi informasi dan komunikasi.7 Sementara itu Rektor IPB, Prof. Dr.Ir. Herry Suhardiyanto, M.Sc Selama 5 tahun ini, dari 510 inovasi Indonesia paling prospektif menurut Kementerian Riset dan Teknologi RI, sebanyak 179 inovasi berasal dari IPB. Dari dua perguruan tinggi negeri besar tersebut, memang nampaknya sebagian perguruan tinggi kita sudah menghasilkan inovasi.

Banyak perguruan tinggi nasional yang berusaha mengembangkan inovasi termasuk mengembangkan hubungan dengan industri dan pemerintah. Berikut ini akan dibahas mengenai usaha-usaha yang dilakukan oleh Bandung Techno Park.

 

5.        Bandung Techno Park: Menunjang Universitas Riset.

 Pada tahun 2007, Institut Teknologi Telkom didukung oleh Departemen Perindustrian mendirikan Unit Pelaksanaan Teknis Teknologi Informasi&Komunikasi (UPT-TIK) yang bertugas membina industri kecil dan menengah yang bergerak dalam bidang TIK di kota Bandung dan sekitarnya. Kemudian melihat tantangan yang dihadapi oleh PT, industri TIK dan pemerintah, UPT tersebut dikembangkan lebih lanjut dengan tugas dalam bidang riset teknologi informasi dan komunikasi. Pada tahun 2010, UPT TIK diubah namanya menjadi Bandung Techno Park (BTP). Seperti digambarkan pada gambar 1, BTP berperan sebagai katalisator dalam hubungan antara akademisi, bisnis/industri dan pemerintah. Secara keseluruhan ada 8 fokus bidang kegiatan BTP, yakni: Research and Development (R&D), Consultancy, Certification, Facility Provider, Business Mediation, Information Distribution, dan Production Support.

Gambar 1. Peran Bandung Techno Park

 

Lokasi BTP berada di kawasan Pendidikan Telkom, Jalan Telekomunikasi Terusan Buah Batu, Bandung.
 Salah satu kegiatan yang telah dilaksanakan oleh Bandung Techno Park adalah  ICT Forum Indonesia-Korea pada 22-23 Januari 2013 dengan dukungan Kementrian Perindustrian dan Kementrian Riset dan Teknologi yang mengusung bidang kerjasama bilateral diberbagai bidang  pengembangan riset industri serta pengembangan Science Technology Park.  Adapun area riset industri yang menjadi target kerjasama meliputi bidang LED, Mobil listrik, Smart Building dan science and Technology park (STP)8.

Model Techno Park di atas sebagai bagian dalam membentuk universitas riset di bawah Yayasan Pendidikan Telkom masih berkembang dan akan banyak mengalami berbagai ujian di dalam proses perkembangannya tersebut. Sumber daya manusia yang menjadi penggerak utama BTP adalah para Dosen yang berasal dari PT yang berada di bawah yayasan. Selain itu, BTP juga mengangkat beberapa peneliti tetap. Dosen maupun peneliti tersebut antara lain berasal dari alumni Perguruan Tinggi di bawah yayasan.

Peran yang dijalankan oleh BTP adalah:

  • Banyak penelitian yang dilakukan di PT tidak link and match dengan kebutuhan industri sehingga hanya menjadi dokumen saja. BTP berperan mengadakan pengembangan lebih lanjut hasil penelitian PT untuk industri.
  • Menambah pengalaman dosen/peneliti dalam berinteraksi dengan industri.
  • Menjadi mediator antara PT dengan industri maupun pemerintah dan lembaga riset lainnya.
  • Memberi masukan masalah-masalah yang dapat dijadikan topik dan bahan riset PT.
  • Merupakan tempat latihan riset bagi mahasiswa.

Lokasi BTP berada di kawasan Pendidikan Telkom, Jalan Telekomunikasi Terusan Buah Batu, Bandung.
 Salah satu kegiatan yang telah dilaksanakan oleh Bandung Techno Park adalah  ICT Forum Indonesia-Korea pada 22-23 Januari 2013 dengan dukungan Kementrian Perindustrian dan Kementrian Riset dan Teknologi yang mengusung bidang kerjasama bilateral diberbagai bidang  pengembangan riset industri serta pengembangan Science Technology Park.  Adapun area riset industri yang menjadi target kerjasama meliputi bidang LED, Mobil listrik, Smart Building dan science and Technology park (STP)8.

 

6.    Peluang dan Tantangan Inovasi di Indonesia.

Sesungguhnya peluang untuk melakukan inovasi di Indonesia sangat besar. Dengan pertumbuhan ekonomi Indonesia sekitar enam persen dewasa ini serta kaya akan masalah-masalah yang harus dipecahkan dalam berbagai bidang maka peluang inovasi sangat besar. Ambil contoh beberapa hal yang mendesak untuk diatasi secara nasional seperti masalah ketahanan energi, pangan dan masalah kependudukan. Dengan jumlah penduduk yang besar yaitu sekitar 240 juta jiwa yang tersebar di seluruh Nusantara maka hal ini menunjukkan besarnya masalah yang dihadapi oleh Indonesia. Ini merupakan peluang untuk melakukan banyak inovasi karena kebutuhannya sangat besar.

Banyak tantangan yang dihadapi para peneliti maupun para pengambil keputusan di Indonesia dalam meningkatkan inovasi nasional termasuk di perguruan tingginya. Beberapa hal diantaranya dibahas berikut ini. Wakil Rektor Institut Pertanian Bogor Anas M Fauzi menyatakan “perlunya perhatian serius di sisi hulu, terutama terkait dukungan anggaran kegiatan riset dan pengembangan. Masalah lain yang dihadapi dalam mengimplementasikan inovasi di Indonesia adalah ketidakselarasan antara penyedia dan kebutuhan pengguna.”5  Berdasarkan laporan Bank Dunia, alokasi anggaran riset dan pengembangan di Indonesia pada 2008 hanya 0,08 persen dari produk domestik bruto (PDB) sementara  Jepang mengalokasikan 3,45 persen dari PDB untuk kegiatan riset dan pengembangan. Sementara itu Ekonom PT. Bank Mandiri Tbk., Destry Damayanti menyatakan “Rendahnya global competitiveness Indonesia antara lain disebabkan faktor edukasi dan efisiensi.12

Inovasi dapat diharapkan muncul dari penelitian mahasiswa S3. “Dalam konteks research university, peran mahasiswa S3 sebagai peneliti full-timer menjadi kunci. Di dalam konteks ini mahasiswa S3 tidak hanya sebagai mahasiswa biasa, tapi juga peneliti yang bekerja bersama dengan dosen pembimbingnya. Di berbagai perguruan tinggi terkemuka mahasiswa S3 menjadi tulang punggung riset.”10 Jadi sangat penting meningkatkan kualitas riset mahasiswa S3 jika Indonesia ingin meningkatkan produktifitas inovasinya.

Dalam melakukan riset, PT tidak selalu menjadi penyedia dana utama. PT dapat melakukan kerjasama dengan industri dalam melakukan riset untuk pengembangan industri itu sendiri. Pranowo6 mengemukakan “Lima prinsip kolaborasi perguruan tinggi dengan industri yaitu membangun kepercayaan (trust building), kesetaraan (equal position), kemanfaatan bersama (mutual benefit), menjaga dan menunjang komitmen (keeping and upholding commitment), dan kejelasan dan kepastian kontrak kerjasama.” Kedua pihak harus dapat mengembangkan ke lima factor tersebut bersama-sama agar kerjasama menjadi lebih produktif. Kolaborasi antara universitas dengan industri dalam Riset & Pengembangan seperti yang ditunjukkan dalam laporan The World Economic Forum diatas menjadi modal dasar untuk terus meningkatkan kerjasama di antara pihak-pihak yang berkepentingan tersebut.

Sesungguhnya baik universitas maupun industri memiliki keunggulan maupun karakteristiknya masing-masing yang dapat bermanfaat bagi masing-masing pihak. Karakteristik masing-masing yang menyulitkan kolaborasi dapat diselaraskan melalui komunikasi dan kerjasama yang saling menguntungkan. Dalam hal ini Pranowo6 menyampaikan “Sisi mudah kolaborasi PT – Industri yaitu PT sebagai merek yang bermutu, upaya industri untuk unggul dalam persaingan pasar membutuhkan PT, Pemerintah mendorong kerjasama PT-Industri lewat berbagai skema insentif seperti Rusnas, Rapid, atau PP 28 tahun 2007. Sisi lainnya yang sulit adalah kultur PT masih belum kompatibel dengan kultur industri, koordinasi intern PT antar unit kerja belum tertata dan berjalan baik, serta peraturan pemerintah yang berkaitan dengan kerjasama universitas dengan industri belum di operasionalkan secara utuh.” Dalam hal ini kedua pihak dapat juga secara kontinyu memberikan masukan kepada pemerintah untuk meningkatkan produktifitas kolaborasi tersebut.

Tentu saja di sisi lain banyak usaha-usaha yang bisa dilakukan untuk meningkatkan produktifitas inovasi nasional. Selama ini baik Pemerintah melalui berbagai badan riset, kementerian dan lain-lainnya serta industri telah menghasilkan berbagai inovasi yang telah dimanfaatkan oleh banyak pihak di dalam dan luar negeri. Namun yang harus diperhatikan adalah posisi relatif Indonesia yang masih banyak ketinggalan dibandingkan Negara-negara lainnya termasuk ASEAN. Apalagi sebentar lagi pada tahun 2015 akan dibuka masyarakat ASEAN yang tentunya berdampak langsung kepada Indonesia baik dalam bentuk peluang-peluang bisnis maupun tantangan atau ancaman bagi ekonomi nasional.

Terkait usaha untuk meningkatkan inovasi nasional, Ketua LP3E Kadin Indonesia Prof. Didik J Rachbini5 mengingatkan “Perlunya solusi untuk menjembatani melimpahnya hasil inovasi agar dapat terserap dan dimanfaatkan oleh dunia usaha.5 Sejalan dengan pendapat tersebut, bila dikaitkan dengan UKM, Erwin Aksa5 menekankan “Pentingnya  bagi Kadin untuk terus mengupayakan peningkatan kapasitas dan efisiensi UKM Indonesia, terutama menghadapi pasar tunggal ASEAN 2015. Semua pihak perlu terus mendorong inovasi agar dapat diterima dan diimplementasikan oleh pelaku UKM untuk meningkatkan daya saing.” Memang sekarang semua pihak telah merasa pentingnya meningkatkan daya saing karena situasi yang makin terbuka sebagai dampak globalisasi yang terus berkembang, termasuk ke ASEAN. Hal ini ditegaskan pula oleh Ekonom PT Bank Mandiri Tbk. Destry Damayanti yang menyampaikan “Dalam dunia bisnis perlu terus dilakukan inovasi yang berkelanjutan. Salah satu alasan inovasi harus perlu terus dikembangkan adalah karena Indonesia merupakan salah satu negara tujuan investasi terbesar di dunia.12

Selain itu Indonesia juga perlu secara sistematis mengembangkan basis ekonominya. Dalam kaitan tersebut sangat menarik apa yang disampaikan Rektor IPB, Prof. Dr.Ir. Herry Suhardiyanto, M.Sc dimana “Ekonomi saat ini masih berupa jual produk ekstrasi dari alam. Ke depan harus menuju ke arah pengolahan dan menggunakan sistem ekonomi yang dikemudikan oleh hasil-hasil inovasi bangsa. Yang perlu dilakukan sekarang adalah implementasi nyata ke masyarakat. Untuk mewujudkan hal ini dibutuhkan insentif dari pemerintah agar pengusaha tidak ragu untuk melirik inovasi-inovasi yang dihasilkan oleh perguruan tinggi.  Biasanya mereka takut rugi karena masuk ke ranah baru.”11 Jadi peran semua pihak seperti pemerintah, industri, erguruan tinggi, badan-badan riset serta berbagai komunitas sangat perlu di sinergikan agar diperoleh kekuatan nyata nasional. Kiranya perlu usaha proatif yang lebih giat lagi dibandingkan masa sebelumnya. Jika tidak dilakukan maka orang lain dari luar negeri akan banyak mengambil kesempatan bisnis di dalam negeri. Mari kita meningkatkan perannya masing-masing.

 

7.        Penutup

Secara umum produktifitas inovasi Indonesia masih harus ditingkatkan agar tidak ketinggalan dari Negara-negara ASEAN lainnya terutama yang sudah maju. Banyak usaha yang sedang dan akan dilakukan oleh Pemerintah, industry dan berbagai komunitas lainnya. Peran universitas riset dapat meningkatkan produktifitas inovasi Indonesia dalam rangka mengembangkan daya saing nasional. Pembentukan Telkom University merupakan salah satu partisipasi industri khususnya PT. Telkom dalam memperbaiki kualitas riset dan inovasi nasional.

 

–00–

Sumber:

  1. Undang-Undang republic Indonesia Nomor 12 Tahun 2012 Tentang Pendidikan Tinggi, 10 Agustus 2012.
  2. Universitas Indonesia, 2012, Arah dan Kebijakan untuk research University, Gelar Ilmu UI 2012, 12 September, Universitas Indonesia, Depok.
  3. UNPAD, 2012, Rencana Strategis Universitas Padjadjaran 2012-2016, Ringkasan, Bandung, 11 September, Bandung
  4. Schwab, Klaus, 2011, The Global Competitiveness Report 2011-2012, World Economic Forum, Geneva, Switzerland.
  5. Urutan Ke-100, Inovasi Indonesia Jauh di Bawah Singapura, Rabu, 6 Maret , http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2013/03/06/07443723/Urutan.Ke-100.Inovasi.Indonesia.Jauh.di.Bawah.Singapura, akses 17 april 2013 jam 16.05.
  6. http://bic.web.id/login/inovasi-indonesia-unggulan, akses 17 April 2012 jam 16.00
  7. http://indonesiarayanews.com/news/sainstek/12-05-2012-09-53/ugm-tawarkan-hasil-inovasi-dan-riset-ke-bumn.
  8. http://www.bandungtechnopark.com/news
  9. Ekonom: Inovasi bisnis di Indonesia masih kurang, 15 April 2013, http://nasional.kontan.co.id/news/ekonom-inovasi-bisnis-di-indonesia-masih-kurang, akses 17 April 2013 jam 16.25.
  10. UGM, 2012, Menuju Research University : Bagaimana peran program S3?, Diskusi Kebijakan Pendidikan,  2 November 2012, Yogyakarta.
  11. Perlu Adanya Sosialisasi Hasil Inovasi IPB Kepada Pengusaha , Selasa, 09 Oktober 2012, http://www.fateta.ipb.ac.id/index.php/Berita-Terbaru/perlu-adanya-sosialisasi-hasil-inovasi-ipb-kepada-pengusaha.
  12. Ekonom: Inovasi bisnis di Indonesia masih kurang, 15 April 2013, http://nasional.kontan.co.id/news/ekonom-inovasi-bisnis-di-indonesia-masih-kurang, akses 17 April 2013 jam 16.25.

 

 

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply