Google Akan Segera Melewati Apple ?


 

Google at the ready to pass Apple as most popular app platform. Itulah sebuah judul berita di halaman utama Financial Times edisi Senin, 3 Juni 2013 lalu.1 Tim Bradshaw yang menulis artikel tersebut menyatakan dalam beberapa bulan ke depan secara cepat akan mendekatkan gap ketertinggalannya dengan pembuat iPad.  Selama ini sejak Apple sukses meluncurkan iPhone dan iPad, perusahaan tersebut menjadi ikon utama gaya hidup digital banyak orang di muka bumi terutama para pemuda maupun para eksekutif muda umumnya, apalagi di Indonesia. Apple telah membuka banyak mata orang akan sebuah kemudahan baru dalam hidup dan bekerja.

            Pada bulan lalu, 50 miliar apps telah di download oleh pengguna iPhone, iPod touch, dan iPad yang berasal dari 850 ribu item dari App Store Apple. Pada saat yang sama, Google menyatakan sebanyak 48 miliar Apps telah di download pula ke Android devices di seluruh dunia. Peneliti-peneliti di Asymco dan analisis Enders memperkirakan dalam waktu hanya dalam hitungan bulan ke depan, Google akan melampaui Apple berdasarkan jumlah download dan jumlah Apps yang tersedia.1

            Persaingan dalam dunia industri gadget dan Apps memang luar biasa ketat. Perkembangan volume download Apps sangat cepat yang diwarnai dengan percepatan yang makin besar. Contohnya pada kuartal 2 tahun 2012, volume download App Apple sebesar 30 miliar App dan pada kuartal 3 nya meningkat menjadi sekitar 35 miliar App. Sementara pada kuartal 2 tahun ini sudah mencapai 50 miliar App. Pada sisi lain prestasi pada Google Play sangat mencengangkan. Jika pada kuartal 2 tahun 2012 baru mencapai volume 20 miliar download maka pada kuartal 2 tahun 2013 telah menggaet 48 miliar seperti yang telah disampaikan di atas.1 Angka pertumbuhannya sangat fantastis.

            Tanda-tanda pertumbuhan volume download Google Play di atas sangat masuk akal bila diperhatikan perkiraan posisi pangsa pasar smartphone (berdasarkan operating system) pada tahun 2013 ini yang menggunakan operating system Android-nya Google. Angkanya sebesar 74,4% sementara Apple iOS kurang dari seperempat dari pangsa pasar Android yaitu sebesar 17,1%. Posisi yang lainnya seperti BlackBerry OS dan Microsoft masih pada angka di bawah 5% saja.1 Dengan Jumlah penetrasi smartphone Android yang jauh lebih besar dibandingkan dengan Apple tentu saja akan menarik lebih banyak developers untuk mengembangkan lebih banyak App lagi. Efek inilah yang meningkatkan kecepatan jumlah download di atas. Apalagi smartphone Android di dukung oleh merek HTC, Samsung, LG, Nokia dan Motorola.

Apple sangat mahir dalam mengembangkan produk. Pendapat dari Wiki 3 Apple sangat dikenal dan laris karena disain produk dan pengalaman pengguna yang diberikan atau dijanjikannya dan hal itu terbukti. Roadmap produknya merupakan yang pertama kali diluncurkan bagi produk-produk dalam jenis tersebut dengan fitur-fitur inti dan pengembangan yang berkelanjutan. Versi pertama iPhone dikeluarkan pada bulan Juni 2009 dengan multitouch screen dengan virtual keyboard serta kamera. Produk ini dapat mengoperasikan layanan internet seperti e-mail, web browsing dan konektifitas Wi-Fi local. Hanya dalam tempo 3 jam saja sejak diluncurkan, iPhone generasi pertama ini terjual sebanyak 270 ribu. Kemudian pada bulan Juli 2008, Apple meluncurkan iPhone 3G di 70 negara. Tahun 2009 perusahaan ini kembali meluncurkan iPhone 3GS dan diikuti dengan peluncuran iPhone 4 pada bulan Juni 2010 yang terjual 1,7 juta unit dalam tempo hanya 3 hari sejak peluncurannya.2 Itulah bukti akan kemampua Apple dalam mengembangkan produk yang inovatif sekaligus pemasaran yang brilian.

MBA Lecturers4 menyatakan key success factors Apple adalah R&D yang sangat kuat, produk-produk inovatif yang sangat berbeda dengan yang sudah ada seperti iPod, iTunes, iPhone, iPad, App Exchange, Apple Store; iklan dan differentiation, brand, jaringan distribusi dan retail, dan lini produk. Pendapat lainnya disampaikan oleh Jon Asbury seorang Engineer dari Kanada 3 menyatakan Apple menjual seni dari Steve Jobs. Ia adalah seorang artis. Seninyalah yang merupakan produk-produk yang dijual Apple. Seni tersebut adalah produk-produk yang berhasil dijual Apple yaitu cara mereka menjual produk-produknya dan juga cara dia mengarahkan dan menginspirasikan berbagai kreatifitas di dalam Apple.

Google besar melalui perkembangan dengan membeli banyak perusahaan sejak tahun 2004 hingga sekarang. Pada bulan Februari 2013 lalu, Google telah membeli Channel Intelligence5 sebuah perusahaan teknologi yang membantu pelanggan membeli produk-produk secara online yang aktif di 31 negara. Dalam hal ini Google akan menggunakanan sistem tersebut untuk meningkatkan bisnis  e-commerce mereka.

Dalam buku What Would Google Do?, dijelaskan Google beroperasi dengan aturan-aturan baru dari abad baru. Sebagai contoh diantaranya sekarang pelangganlah yang bertugas dimana mereka dapat didengar dari seluruh penjuru bumi dan mempunyai pengaruh seketika pada institusi besar. Aturan lainnya terbuka jalan pelanggan bekerja sama dengan bisnis dalam berkreasi, distribusi, memasarkan, dan memberi support pada produk dimana hal itulah yang memberikan nilai lebih dewasa ini. Yang menarik juga adalah berkaitan dengan kunci sukses. Disampaikan dalam buku itu kepemilikan terhadap jalur pipa-pipa, orang-orang, produk-produk, atau bahkan kekayaan intelektual bukanlah kunci keberhasilan lagi. Namun keterbukaanlah yang merupakan ikonnya.

Ke dua perusahaan Apple dan Google sama-sama memiliki keunggulan dan kelemahannya masing-masing. Keterbukaan yang menjadi satu senjata bagi Google melalui pengembangan operating system Android nampaknya telah mendorong makin banyaknya volume down load app secara global. Bagaimana Apple yang berpengalam akan menghadapi persaingan ini?. Akankah Apple mengadopsi Android juga?. Ini yang menarik…

 

Sumber:

1.       Financial Times, 2013, Google at the ready to pass Apple as most popular app platform, 3 Juni, hal.1 dan 17.

2.       Marino, Lou; John E. Gamble, 2010, Apple Inc. in 2010, Crafting and Executing Strategy: Concepts & Cases, 18/e, McGraw-Hill, printed 2012, hal. C122-C135.

3.       Quora, Which are the key success factors of Apple’s business model?, http://www.quora.com/Which-are-the-key-success-factors-of-Apples-business-model#, akses 5 Juni 2013 jam 06.50.

4.       MBA Lecturers, 2011, key-success-factors-of-apple, 17 Januari, http://mba-lectures.com/management /strategic-management/1203/key-success-factors-of-apple.html, akses 5 Juni 2013, jam 07.05.

5.       Google, 2013, http://en.wikipedia.org/wiki/Google, akses 5 Juni 2013, jam 07.20.

6.       Jarvis, Jeff, 2009, What Would Google Do?, Collin Business, New York.

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Gaya Hidup Digital

 

            Dengan berkembangnya layanan telekomunikasi seluler, makin meningkatkan jumlah penggunanya. Artinya makin banyak orang-orang yang saling terhubung satu sama lainnya untuk beragam kepentingan. Nokia bilang “connecting people”. Selain itu makin banyak pula orang-orang terhubung dengan berbagai sumber informasi berita, siara televisi, siaran radio maupun melihat keadaan rumahnya masing-masing. Dengan makin berkembangnya aplikasi (apps) makan akan makin banyak orang yang melakukan bisnis via ponsel seperti transaksi bank, belanja online termasuk periksa kesehatan jarak jauh.

Apa yang dahulu masih sebatas pembahasan di buku-buku teks telekomunikasi maupun komunikasi atau mimpi banyak orang maka sekarang hal tersebut sudah banyak yang menjadi kenyataan dan dijalankan orang dalam kehidupan sehari-harinya. Pada perjalanan saya dalam tempo dua bulan belakangan ini ke Denpasar, Yogyakarta, Bangkok dan Palembang, saya menyaksikan bagaimana ponsel telah menjadi sebuah ‘mainan” yang sangat dinikmati oleh orang-orang yang akan bepergian naik pesawat terbang tersebut. Yang bepergian sendirian asyik melihat berita-berita detiknews, CNN, KOMPAS dan banyak lagi sumber berita lainnya maupun bercakap-cakap dengan keluarga atau rekan-rekannya. Berita kecelakaan pesawat Merpati di Kupang pada hari yang sama yang baru saja terjadi jam 10.40 wib dapat saya ketahui seketika sebelum terbang kembali ke Jakarta dari Palembang pada hari Senin lalu. Boleh dibilang lebih dari 40% orang-orang yang saya amati di airport kota-kota tersebut asyik dengan smartphone, iPad, Samsung atau Lenovonya masing-masing.

Sekarang ini makin banyak orang menggantungkan kegiatannya pada ponsel.  Baru-baru ini International Data Corporation (IDC)4 mempublikasikan 62% responden dari 7.446 pengguna iPhone dan Android yang mereka survei langsung mengambil ponsel pintarnya tidak sampai 15 menit sejak bangun tidur untuk mengecek e-mail, sms, pesan instan lainnya dari Whatsapp, line) dan jejaring sosialnya (Facebook, Twitter, atau Path). Ada juga yang membuka komputer tablet atau laptopnya. Demikian signifikannya peran gadget pada kehidupan manusia secara umum sehingga menjadi prioritas barang yang diingat dan dipergunakannya. Memang kehidupan yang berlangsung cepat menuntut tiap orang untuk dapat mengikuti berbagai perkembangan yan terjadi.

Kegiatan belanjapun bisa dilakukan melalui internet. Sejak 7 Juni 2013 lalu, Alfamart7 membuka layanan online di Bandung dengan media pembayaran Mandiri Clickpay, BCA Klikpay, Telkomsel T-Cash, dan XL Tunai. Mereka baru membuka di beberapa kota Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi, dan Bandung.Demikian juga dapat disaksikan berbagai pemesanan secara online yang banyak berjalan seperti pemesanan hotel, tiket penerbangan, dan pendaftaran masuk ke perguruan tinggi. Hal itu makin memudahkan pelanggan dalam melakukan berbagai kegiatan-kegiatannya atau dengan istilah pemasaran makin memberikan nilai pelanggan (customer vlue) yang lebih besar dibandingkan sebelumnya.

Apa yang telah ditulis di atas merupakan contoh-contoh bagaimana gadget telah dipakai oleh orang-orang untuk berbagai kepentingan komunikasi dan transaksi. Saya menyebutnya sebuah gaya hidup digital. Untuk mendalami apa yang dimaksud dengan gaya hidup digital, maka berikut ini akan dibahas dahulu apa yang dimaksud dengan gaya hidup.

 

Gaya hidup

            Gaya hidup atau lifestyle telah menjadi kajian ilmiah sejak lama. Coreil et al. (1985) mengatakan gaya hidup merupakan sebuah istilah yang pertama kali dikembangkan dalam bidang psikologi. Namun sumber lainnya Fullerton dan Dodge (1992) serta Jih dan Lee (2004)menyampaikan bahwa  konsep gaya hidup diperkenalkan pertama kali ke dalam pemasaran oleh Lazer (1963). Memang gaya hidup merupakan sebuah konsep yang penting dikaitkan dengan kehidupan manusia secara umum, apalagi bila dikaitkan dengan aspek-aspek lainnya seperti kesehatan, sosial, pemasaran, dan pengambilan keputusan. Tidak heran bila konsep ini banyak mendapat perhatian para ahli dari berbagai bidang keilmuan.

Apa sebetulnya gaya hidup itu?. Banyak ahli yang telah mengkaji dan menulis hal ini. Plummer (1974) menyatakan gaya hidup menggambarkan orientasi perilaku orang-orang. Dengan gaya hidup tertentu memberi ciri kepada orang-orang berkaitan dengan aspek hidup yang unik mencakup berbagai kegiatan yang dilakukan, minat (interest) dan pendapat-pendapatnya atas sesuatu hal. Dikaitkan dengan penelitian, lebih lanjut Plummer menegaskan gaya hidup merupakan konstruk yang berkaitan dengan perilaku yang ditunjukkan orang-orang dalam menjalankan kehidupannya sehari-hari. Horley, J. (1992) menyampaikan gaya hidup meliputi hal yang luas dalam diri seseorang yaitu   berkaitan dengan afiliasi budaya, status sosial, latar belakang keluarga, personaliti, motivasi, kognisi, dan stimulus pemasaran.

Bila dikaitkan dua pengertian di atas, perilaku yang dijalankan oleh seseorang merupakan konsekuensi dari beberapa aspek yang dimiliki dan di alami orang tersebut yang berhubungan secara kompleks seperti budaya yang dianutnya, status sosial dalam masyarakatnya, personality, pengaruh dari pemasaran perusahaan-perusahaan dan lain-lain. Hal-hal tersebut menghasilkan pola perilaku yang dijalankan oleh seseorang.

Menurut Lutzenhiser dan Gossard (2000) gaya hidup adalah  cara kehidupan tertentu yang membuatnya berbeda dengan yang lain yang dilakukan oleh orang-orang dan kelompok-kelompok melalui pola-pola tindakan tertentu yang dimengerti dan disepakati bersama secara sosial. Berkaitan dengan yang disampaikan tersebut, Lutzenhiser dan Gossard, Sanquist et al. (2012) yang meneliti masalah energi berpendapat pada definisi tersebut di atas secara tersirat menunjukkan adanya kelompok-kelompok sosial tertentu, pola-pola demografi dan perilaku yang mempengaruhi pengeluaran, dan konsumsi. Ke dua penulis menghubungkannya dengan penggunaan energy, bidng yang sedang mereka teliti.Menurutnya konsep gaya hidup sudah lama digunakan dalam penelitian pelanggan dan iklan, dimana kelompok gaya hidup tertentu yang diperhatikan merupakan pasar yang jelas dan berbeda dari kelompok lainnya.

Schiffman et al.(2010) menulis gaya hidup terdiri dari kegiatan-kegiatan, minat (interest), dan pendapat-pendapat yang mana sebagian besar berupa sikap (attitude atau kognisi) terhadap berbagai isyu. Li (2012) menulis gaya hidup sering dipandang sebagai cara orang-orang mengekspresikan konsep dirinya sehingga gaya hidup dilihat sebagai pembentuk utama identitas orang. Mereka menggunakan citra-citra dan simbol-simbol yang berkaitan dengan gaya hidup tertentu dimana secara aktif mengekspresikan dan mengkomunikasikan identitas mereka kepada lingkungannya.

 

Gambar 1 Pemetaan Pengertian Gaya Hidup

1

Plummer (1974)

Perilaku sehari-hari=> kegiatan2, minat dan pendapat-pendapat

2

Horley, J. (1992)

Afiliasi budaya, status sosial, latar belakang keluarga, personaliti, motivasi, kognisi, stimulus pemasaran

3

Lutzenhiser dan Gossard (2000)

Pola-pola tindakan tertentu seseorang

4

Lutzenhiser dan Gossard, Sanquist et al. (2012)

Kelompok-kelompok sosial tertentu, pola-pola demografi dan perilaku => mempengaruhi pengeluaran, konsumsi, dan akhirnya penggunaan energi

5

Schiffman et al.(2010)

Kegiatan-kegiatan, minat, dan pendapat-pendapat => berupa sikap (attitude atau kognisi) terhadap berbagai isyu.

 

6

Li (2012)

Ekspresi konsep dirinya => identitas orang => melalui citra-citra dan simbol-simbol tertentu => mengkomunikasikannya kepada lingkungannya

 

Berdasarkan pembahasan di atas, Gaya hidup merupakan gambaran diri seseorang yang dinyatakannya baik secara langsung maupun tidak langsung dalam kehidupannya sehari-hari melalui tindakan-tindakan yang dilakukan oleh orang tersebut, minat yang ditunjukkannya serta pendapatan-pendapatnya terhadap sesuatu hal tertentu.

 

Sumber:

1.      Coreil, J., Levin, J. S., and Jaco, E. G., 1985, Lifestyle: An emergent concept in the sociomedical sciences. Culture, Medicine and Psychiatry, 9, 4, 423–437.

2.       Efficiency and Sustainability Summer Study, Pacific Grove, CA, vol. 8, hal. 207–222.

3.       Horley, J., 1992, A longitudinal examination of lifestyles, Social Indicators Research, 26, 3, 205–219.

4.       KOMPAS, 2013, Kesenangan Lebih di Era Teknologi Informasi, 12 Juni.

5.   Li, Shu-Chu Sarrina, 2012, Lifestyle orientations and the adoption of Internet-related technologies in Taiwan, Telecommunications Policy.

6.Lutzenhiser, L., Gossard, M.H., 2000. Lifestyle, status and energy consumption, Proceedings of ACEEE.

7.   Pikiran Rakyat, 2013, Sekilas Ekonomi: Alfamart Buka Layanan “Online” di Bandung, 10 Juni, hal. 26.

8.  Plummer, J. T., 1974, The concept and application of lifestyle segmentation, Journal of Marketing, 38(1), 1974, 33–74.

9.      Sanquist, Thomas F.; HeatherOrr; BinShui; AlvahC.Bittner, 2012, Lifestyle factors in U.S. residential electricity consumption, Energy Policy 42 (2012) 354–364.

10.Schiffman, Leon G.; Leslie Lazar Kanuk, JOSEPH Wisenblit, 2010, Consumer Behavior    10th    edition,    Pearson, hal.76.

11. Fullerton, S., and Dodge, H. R., 1992, A reassessment of life style and benefits-based segmentation  strategies, Journal of Marketing Management, 2, 2, 42–46.

12. Jih, W. J. K., and Lee, S. F., 2004, An exploratory analysis of relationships between cellular phone  users’ shopping motivators and lifestyle indicators, Journal of Computer Information Systems, 44, 2,  65–73.

           

Posted in Uncategorized | Leave a comment

INOVASI DI INDONESIA: PRESTASI, PELUANG DAN TANTANGAN

1.    Pendahuluan

Tulisan ini dibuat sebagai bahan kuliah sekaligus materi pemikiran serta sebagai tantangan bagi semua pihak termasuk para mahasiswa Program Corporate Development ke empat di Institut Manajemen Telkom. Sebagai bagian dari civitas akademika IM Telkom maka kita bersama ditantang untuk terus maju memberikan peran yang lebih besar kepada masyarakat nasional dan global. Hal ini sejalan dan menunjang pasal 45 UU RI nomor 12 tahun 2012 tentang Pendidikan Tinggi1 dimana “Penelitian di Perguruan Tinggi diarahkan untuk mengembangkan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi, serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan daya saing bangsa.” Continue reading

Posted in Uncategorized | Leave a comment

MENINGKATKAN PERANAN PROGRAM, ALUMNI DAN PENGGUNA DALAM MEWUJUDKAN UNIVERSITAS RISET DAN PENGEMBANGAN BISNIS

Oleh Husni Amani

Rektor IM Telkom

1.    Pendahuluan

Pertama saya ucapkan selamat kepada seluruh civitas akademika Program DMB Fakultas Ekonomi & Bisnis UNPAD atas Dies Natalies ke XII. Sudah banyak pencapaian yang ditunjukkan oleh DMB antara lain dalam bentuk lulusan S3 yang telah berperan dalam berbagai sektor industri maupun pemerintahan. Pertemuan pada hari ini merupakan salah satu cara DMB mengevaluasi dan meningkatkan perannya untuk lebih produktif di tengah perkembangan pesat Indonesia diantara negara-negara maju yang sedang mengalami kesulitan ekonomi yang masih berlangsung saat ini  serta Asia yang mulai menjadi pusat kemajuan ekonomi dunia. Continue reading

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Perusahaan Indonesia di Luar Negeri: Peluang dan Tantangan

Perkembangan yang Menantang

Dengan makin berkembangnya globalisasi, terbuka banyak kesempatan bisnis di berbagai negara sehingga makin banyak perusahaan-perusahaan masuk ke negara-negara lain terutama yang memiliki pertumbuhan tinggi di tengah kesulitan ekonomi yang di alami Eropa dan Amerika Serikat. Kotler & Kotler9 menyatakan dewasa ini perusahaan-perusahaan menghadapi dua jalur ekonomi global yaitu ada negara-negara dengan ekonomi tinggi dan rendah, ada juga dengan pertumbuhan lambat dan cepat. Ke dua penulis tersebut menyatakan Uni Eropa dan Amerika Serikat akan mengalami pertumbuhan ekonomi lambat hingga tahun 2020. Bila diperhatikan sebaliknya negara-negara Asia terbang tinggi seperti Indonesia, Malaysia, Vietnam, Cina dan India. Ada lagi yang lainnya yaitu Myanmar yang baru saja membuka negaranya untuk investasi asing. Tentu saja bisnis mencari kesempatan untuk terus hidup dan berkembang sehingga tempat-tempat yang menawarkan kesempatan bisnis yang menarik menjadi sasarannya. Contohnya perusahaan-perusahaan Cina, Taiwan, Korea, Inggris, Jerman, dan Amerika Serikat mencoba masuk ke beberapa negara-negara di ASIA termasuk ASEAN tentunya. Hal ini tidak terkecuali dilakukan juga oleh berbagai perusahaan di Indonesia, baik BUMN maupun perusahaan-perusahaan swastanya. Bagi perusahaan-perusahaan Indonesia terutama BUMN disamping motif bisnis, di dorong pula dengan pengembangan citra terutama berkaitan dengan keinginan menjadi champion di regional. Continue reading

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Research & Development: Bagaimana Agar Tetap Inovatif?

 Pada saat membahas sumber daya perusahaan, banyak elemen yang membentuknya dimana salah satunya adalah Research & Development atau sering di singkat dengan R&D. Masalah ini berkaitan dengan kasus yang akan dibahas di kelas. Research In Motion (RIM) sedang memikirkan bagaimana caranya meningkatkan kemampuan R&D-nya menghasilkan inovasi produk-produk ditengah kompetisi yang amat ketat dengan pesaing-pesaingnya. Berkaitan dengan masalah R&D ini, dalam paper ini akan dibahas secara singkat usaha-usaha apa saja yang perlu dilakukan di tingkat negara (secara makro) maupun perusahaan (secara mikro) untuk meningkatkan kemampuan inovasi melalui R&D.

  Continue reading

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Penelitian Lingkungan Makro Perusahaan: Ilustrasi Penelitian yang Pernah Dilakukan Peneliti di Negara Lain.

 


Secara umum sebuah penelitian mengungkapkan hal-hal baru mengenai suatu masalah yang dijadikan topik penelitian. Demikian juga dengan kuliah ini yaitu mengenai lingkungan makro dan lingkungan mikro perusahaan. Informasi baru tersebut tentunya dapat dipakai dalam mengambil keputusan berkaitan dengan bisnis yang dikelola perusahaan. Tujuan paper ini adalah untuk memberikan gambaran awal mengenai penelitian-penelitian yang berkaitan dengan faktor-faktor lingkungan makro perusahaan agar mahasiswa mendapatkan bayangan mengenai penelitian-penelitian yang berkaitan dengan aspek kuliah yang diberikan tersebut. Pembahasan dalam paper ini tidak dimaksudkan untuk mendiskusikan secara mendalam berkaitan dengan metodologi penelitian namun sebagai pengantar awal dikaitkan dengan materi yang sedang dibahas dalam kuliah ini. Selain itu bagi mahasiswa yang berada di tingkat pendidikan magister, sudah selayaknya mengenal mengenai berbagai informasi yang diperoleh dari hasil-hasil penelitian melalui jurnal-jurnal nasional maupun internasional termasuk thesis maupun disertasi.

Untuk mempermudah pembaca dapat mengkaitkan dengan sumber tulisan aslinya maka beberapa bagian tetap dalam bahasa aslinya yaitu bahasa Inggris seperti judul penelitian, nama-nama variabel, dimensi dan indikator penelitian, hipotesis dan lain-lainnya yang perlu. Untuk mendapatkan gambaran lebih detil pembaca dapat melihatnya pada jurnal yang bertalian. Berikut ini akan di bahas terlebih dahulu penelitian pada bisnis hotel di Malaysia.

 

Penelitian 1 : The Effect of Business Strategy and External Environment on Management Control Systems: A Study of Malaysian Hotels.

 

Penelitian ini dilakukan oleh Sofiah Md Auzair1 dosen School of Accounting Faculty of Economics and Management Universiti Kebangsaan Malaysia. Studi ini mempelajari Manajemen Control System (MCS) di hotel-hotel Malaysia sebagai variabel terikat dan Business Strategy (dimensinya Cost Leadership dan Differentiation Strategy) dan Perceived Environmental Uncertainty sebagai variabel bebasnya. Model teoritis yang menggambarkan kaitan antara variable-variabel penelitian dapat dilihat pada gambar 1.

                                                             Gambar 1. Theoretical Framework

Hipotesis penelitian yang memberikan jawaban sementara atas masalah penelitian adalah:

H1a: A cost leadership strategy is positively associated with a more bureaucratic form of MCS.

H1b: A differentiation strategy is positively associated with a less bureaucratic form of MCS.

H2: PEU is positively associated with a bureaucratic form of MCS and negatively associated with a less bureaucratic MCS.

Untuk mengukur cost leadership strategy, responden diberi pertanyaan-pertanyaan berikut dengan menggunakan skala jawaban dari 1 hingga 7:

1. Achieving lower cost of services than competitors

2. Making services/procedures more cost efficient

3. Improving the cost required for coordination of various services

4. Improving the utilization of available equipment, services and facilities

Sementara itu untuk yang berkaitan dengan product differentiation strategy, responden diberi pertanyaan-pertanyaan yang berkaitan dengan hal-hal berikut:

1. Introducing new services/procedures quickly

2. Providing services that are distinct from that of competitors

3. Offering a broader range of services than the competitors

4. Improving the time it takes to provide services to customers

5. Providing high quality services

6. Customizing services to customers need

7. Providing after-sale service and support

Untuk mengukur PEU, pertanyaan-pertanyaan yang diajukan kepada responden berkaitan dengan aspek-aspek beikut ini:

1. Intensity of manpower and price competition .

2. Changes in new services, economic and technology, legal, political and scientific discoveries .

3. Predictability of competitors and customers .

Teknik pengolahan data yang dipakai adalah descriptive Statistics dan factor analysis. Selain itu dilakukan Multiple regression analysis untuk menguji hipotesis H1 dan H2 dengan rumus Y = c1 + b1X1+ b2X2 + b3X3 + e1 dimana Y = MCS (more bureaucratic, less bureaucratic), X1 = Cost leadership strategy, X2 = Differentiation strategy dan X3 = External environment.

Penelitian ini menggunakan metode survei dimana kuesioner diberikan kepada top manajemen hotel-hotel di Malaysia. Sampel dari hotel-hotel yang memiliki minimal 30 kamar. Sampel 520 hotel dengan responden top-level manager. Yang masuk 59 kuesioner atau sebesar 11.3 persen, dinilai cukup rendah. Dari pengalaman peneliti-peneliti yang masuk berkisar antara 1 hingga 10 persen saja.

Temuan penelitian menunjukkan hotel-hotel yang menggunakan cost leadership strategy berkaitan dengan MCS yang lebih birokrasi. Sementara bagi hotel-hotel yang menggunakana differentiation strategy berkaitan dengan MCS yang kurang birokrasi.

PEU berkorelasi negative dengan MCS yang kurang birokrasi dimana hal ini menunjukkan pengendalian yang lebih ketat bila lingkungan dinilai unpredictable. Secara umum hasil penelitian menunjukkan tipe MCS yang dipergunakan oleh hotel-hotel berhubungan denan  business strategy dan PEU.

 

Penelitian 2: Impacts of External Business Environment on Organisational Performance in the Food and Beverage Industry in Nigeria.

 

Penelitian ini dilakukan oleh Adeoye2 dari  School of Management, Information Technology and Governance,University of KwaZulu-Natal, Durban, South Africa dan Elegunde dari Department of Business Administration and Management Technology Lagos State University, Ojo, Nigeria.

Studi ini mempunyai tujuan untuk mengetahui pengaruh external business environment khususnya aspek economic and political environment pada  organisational performance pada industri makanan dan minuman di Nigeria.

Hipotesis penelitian adalah  economic and political environments have no impact on organisational performance.

Data penelitian dikumpulkan menggunakan kuesioner pada tiga perusahaan dengan jumlah sampel sebesar 150 responden berdasarkan stratified sampling techniques dan yang kembali untuk di olah sebesar 84 persennya. Tiap perusahaan dibagi ke dalam strata berdasarkan homogenitas dan dan relatedness.

Analisis data penelitian dilakukan dengan menggunakan multiple regression analysis dengan model umum:

OP = F (E, P, T, S …………………………………………U)

dimana

OP= organisational performance which include efficiency, effectiveness, increase in

sales, achievement of short and long-term goals, and achievement of customer/client

satisfaction.

E= economic environment (monetary policies, interest rate, availability of funds)

P= political environment (political terrain in the country, legal framework, authority

relationship)

T= technological environment (technological innovation, technological development)

S= socio-cultural environment (values, norms, belief, attitudes, religions)

In order to provide an answer to the research question and hypothesis; that the economic and

political environment has no impact on OP.

Hasil pengolahan menunjukkan persamaan regresi:

 

Y= -85.31 + 4.69 X1 – 3.01 X2

 

Persamaan regresi tersebuts menunjukkan economic environment dan political environment mempunyai pengaruh terhadap organisational performance dalam industri makanan dan minuman di Nigeria. Jadi hipotesis diatas bahwa lingkungan ekonomi dan politik tidak berpengaruh terhadap performansi organisasi di tolak. Dengan demikian manajemen perusahaan harus melakukan kegiatan scanning lingkungan bisnisnya secara teratur agar selalu dapat mengantisipasi berbagai perkembangan lingkungan bisnisnya untuk meningkatkan performansi bisnis.

 

Penelitian 3:  Impact of Unconducive Macro-Business Environment on Productive Efficiency and Capacity Utilization among SMEs in Liberia.

 

            Penelitian ini dilakukan atas kerjasama oleh Dr. Aloyce R. Kaliba and Dr. Ashagre A. Yigletu3 dari Department of Economics, College of Business, Southern University and A&M College serta Dr. Wede E. Brownell, Edna G. Johnny and Tuwehi C. Ziadee dari Department of Economics, College of Business and Public Administration University of Liberia.

Lingkungan makro bisnis yang kondusif merupakan salah satu faktor yang mendorong perusahaan-perusahaan untuk beroperasi secara efisien. Situasi demikian akan memperkuat insentif pada perusahaan-perusahaan menjadi inovatif dan meningkatkan efisiensi kegiatan produktifnya. Unconducive macro business environment berperan sebagai input negatif pada proses produksi.

Penelitian ini menggunakan hasil survei tahun 2008/2009 atas SME di Liberia untuk mengestimasi unconducive macro business environment dengan menggunakan two parameter Rasch Model. Angka-angka yang diperoleh ini disertakan dalam output-semi-oriented radial Data Envelopment Analysis (DEA) model sebagai undesirable inputs. DEA model ini dipakai untuk mengestimasi technical efficiency dan capacity utilization untuk setiap perusahaan. Kemudian gap technical efficiency and revenue hasil estimasi dibuat regresinya menggunakan Tobit model.

Sumber data berasalah dari database survey perusahaan-perusahaan oleh World Bank dan tersedia secara bebas di www.enterprisesurveys.org. Survey dilakukan dari 15 September 2008 to February 2009 melalui interview tatap muka dengan para pemilik dan manajer perusahaan berkaitan dengan aspek macro business environment yang mereka hadapi. Perusahaan-perusahaan dikelompokkan berdasarkan jumlah pegawai sebagai berikut: small (5-19 employees), medium (20-99 employees) and large (more than 100 employee). Dari 150 perusahaan yang di survey, 73 perusahaan merupakan perusahaan manufaktur dan 67 perusahaan adalah yang bergerak dalam bidang jasa. Studi ini focus pada sector manufaktur.  

Berdasarkan pengolahan data dengan Rasch models menunjukkan bahwa korupsi yang dilakukan pegawai negeri, kurangnya dukungan penyediaan pinjaman dari lembaga keuangan dan kurangnya suplai tenaga listrik merupakan penyumbang utama pada  unconducive macro business environment. Sementara itu hasil pengolahan dari Tobit model menunjukkan labor cost and indexes of macro business environment berpengaruh secara signifikan terhadap capacity utilization dan technical efficiency. Labor cost dapat dipengaruhi oleh managers atau operators; macro business environment dapat dipengaruhi oleh Pemerintah. Hukum dan kebijakan yang dikembangkan ditujukan untuk memerangi korupsi harus dapat diimplementasikan secara efektif. Investasi pada lembaga keuangan dan bidang kelistrikan sangat perlu untuk memperbaiki utilisasi kapasitas perusahaan-perusahaan manufaktur di  Liberia.

 

Catatan:

 

Major indicators of macro business environment in Liberia

Corruption

1

Informal payment to public officials is expected to get things done

2

Gifts to public officials are expected to get an operating license

3

Firm is expected to give gifts when meetings with tax officials

4

Firm is expected to give gifts to secure a government contract

Crime and theft

5

Firm is paying for security

6

Firm experiencing frequent losses due to theft, robbery, vandalism, and arson

Firm experiencing frequent losses of products shipped to supply domestic markets

Finance

8

Firm do not has line of credit or loans from financial institutions

9

Firm do not use banks to finance investments

10

Enterprises do not use banks to finance operating expenses

11

Value of collateral needed for a loan is higher than 50% of the loan amount

Infrastructure

12

Reported revenue loss due to power outages

13

Generator used most of the time to generate electricity

14

Delay in obtaining an electrical connection

15

Incidence of water shortage and insufficiency

16

Experience in obtaining a water connections

17

Delay in obtaining a mainline telephone connection

 

 

Penelitian 4: Impact of Macro-economic Environment on Diversification-performance Relationship: A Cross Country Study of India and Japan.

 

Studi ini dilakukan oleh Saptarshi Purkayastha dengan tujuan untuk membandingkan dan menunjukkan perbedaan hubungan yang dinamis antara  product diversification, business group affiliation dan firm performance di India dan  Jepang. Rumelt (1974) menyatakan hubungan antara diversification-performance konsisten, tanpa terpengaruh oleh macro-economic context. Penelitian ini menguji pendapat tersebut dengan mengkaji hubungan di antara perusahaan-perusahaan yang beroperasi pada dua lingkungan ekonomi yang berbeda.

Dalam penelitian ini secara lebih spesifik menguji pengaruh diversifikasi pada performansi perusahaan pada dua lingkungan situasi ekonomi makro di India dan Jepang selama periode kelangkaan. Selain itu penelitian ini juga ingin mengetahui pengaruh moderasi dari afiliasi grup pada hubungan antara diversifikasi dan performansi selama situasi kelangkaan.

Situasi lingkungan ekonomi makro di India dan Jepang di tunjukkan pada table 1 di bawah ini.

 

       Table1. Macroeconomic environmental conditions in India and Japan

 

Indicators (2008)

India

Japan

GDP (Billion, $)

1217.5

4909.3

GDP Per Capita ($)

1,068

38,442.6

Gross savings (% of GDP)

35.8

27.9a

Inflation, consumer prices

8.3

1.4

Total reserves (Billion, $)

257.4

1,030.8

 

 

            Hipotesis penelitian sebagai berikut:

Hypothesis 1a: The more institutionally developed an economy, such as Japan, the lesser are the benefits for diversified firms.

Hypothesis 1b: The less institutionally developed an economy, such as India, the greater the benefits for diversified firms.

Hypothesis 2a: In a developed economy, such as Japan, the more diversified a firm, the greater the decline in its performance during periods of macroeconomic scarcity.

Hypothesis 2b: In an emerging economy, such as India, the more diversified a firm, the lesser the decline in its performance during periods of macroeconomic scarcity.

Hypothesis 3a: In India, business group affiliation does not have positive moderating effects on the relationship between product diversification and financial performance during periods of economic scarcity.

Hypothesis 3b: In Japan, keiretsu affiliation has positive moderating effects on the relationship between product diversification and financial performance during periods of economic scarcity.

Semua hipotesis di atas akan di evaluasi menggunakan persamaan regresi dengan model berikut:

 

ROAi= α + βDIVRi + λ GRi + η DIVRi*GRi + δXi + εi

 

dimana:

·         DIVRi  refers to the diversification measure for the firm i.

·          GRi represents a dummy variable and takes the value of ‘1’ when a diversified firm shows business group affiliation in the case of India, or keiretsu affiliation in the case of Japan.

·          The co-efficient η depicts the moderating influence of firm diversification and business group affiliation on the relationship between diversification and performance. A positive value of η indicates that business group affiliation positively moderates the diversification-performance relationship. In other words, a positive η indicates affiliated diversified firms will have superior performance than unaffiliated diversified firms.

·         Firm-specific variables (Xi) as control variables to isolate the impact of diversification on firm performance.

·         ROA as the dependent variable.

 

Perusahaan responden dipilih dari Worldscope Fundamental database yang merupakan global database of Thomson Reuters yang memiliki lebih dari 57000 firms di 70 negara. Dalam penelitian ini dibatasi hanya pada perusahaan-perusahaan manufaktur. Untuk menjaga konsistensi, perusahaan-perusahaan yang masuk dalam sampel yang berdiri setelah tahun 1996 hingga masa penelitian berakhir. Sampel dari perusahaan-perusahaan India berjumlah 186 diversified firms, dimana sebesar 65 perusahaan (35 per cent) merupakan non-group firms sementara itu sisanya adalah group-affiliated firms. Sampel perusahaan-perusahaan jepang berjumlah 224 diversified firms dimana sebanyak  101 perusahaan (45 per cent) merupakan non-group firms. Dalam penelitian ini dipilih perusahaan-perusahaan yang bergerak dalam lebih dari satu industri. Table 2 menunjukkan sector-sektor perusahaan-perusahaan yang masuk dalam sampel penelitian.

 

Table 2. Sectoral distribution of Indian and Japanese firms

                                                      No. of Firms

 

Industry                                Indian

Japanese

Basic industry such as mining, paper, wood, chemicals & primary metals .

90

104

Capital goods industry such as industrial and commercial machinery, photographic, medical and optical goods .

17

38

Consumer durable industry

21

61

Construction industry

19

52

Food & tobacco industry

42

18

Petroleum industry

5

21

Textile industry

22

48

 

Hasilnya penelitian menunjukkan pengaruh diversifikasi pada performansi berubah dari positif kearah negatif bila lingkungan makro berubah dari situasi yang banyak kemudahan ke kondisi langka. Sementara itu pengaruh moderasi afiliasi bisnis group konstan, tidak bergantung pada lingkungan makro.

 

Penutup

 

Masih banyak variasi penelitian yang dapat dibaca dan dipelajari untuk memperkaya pengetahuan mahasiswa. Jika hal tersebut dilakukan secara rutin maka apa yang diperoleh dapat membantu pemahaman yang lebih mendalam atas materi kuliah ini.

 

Sumber:

 

1.       Auzair, Sofiah Md, 2011, The Effect of Business Strategy and External Environment on Management Control Systems: A Study of Malaysian Hotels, International Journal of Business and Social Science Vol. 2 No. 13, Special Issue – July 2011, p.236-244.

2.       Adeoye, Abayomi Olarewaju; Elegunde, Ayobami Folarin, 2012, Impacts of External Business Environment on Organisational Performance in the Food and Beverage Industry  in Nigeria, British Journal of Arts and Social Sciences Vol.6 No.2 (2012).

3.       Kaliba,Aloycer R., Ashagre A.Yigletu, Wede E.Brownell,Edna G.Johnny and Tuwehi C. Ziadee, 2012, Impact of Unconducive Macro-Business Environment on Productive Efficiency and Capacity Utilization among SMEs in Liberia, Review of Economics & Finance, Academic Research Centre of Canada, p.97-110.

4.       Purkayastha, Saptarshi, 2013, Impact of Macro-economic Environment on Diversification-performance Relationship: A Cross Country Study of India and Japan, Indian Council for research on International Economic Relations, January.

 

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Lingkungan Makro : Kesempatan dan Tantangan Bisnis

 

 

Dalam kuliah Manajemen Strategis pada hari Senin tanggal 6 Mei 2012 akan dibahas tentang evaluasi lingkungan makro perusahaan. Disamping membahas aspek teorinya maka untuk memberi gambaran yang lebih lengkap kepada mahasiswa akan dibahas juga beberapa ilustrasi  tentang sebagian faktor-faktor lingkungan makro tersebut. Pembahasan dalam tulisan ini tidak dimaksudkan untuk mengkajinya secara utuh tetapi lebih ditujukan memberikan beberapa contoh saja dikaitkan dengan konteks kuliah ini. selanjutnya ini akan dibahas secara singkat mengenai komponen lingkungan makro berdasarkan pandangan dari tiga sumber.

Lingkungan Makro

Thompson et al.20 (2012) menyampaikan “Lingkungan makro sebuah perusahaan terdiri dari 7 bagian yaitu kondisi ekonomi umum (general economic conditions), tekanan global (global forces), tekanan sosial (social forces), factor-faktor teknologi (technological factors), factor-faktor politik/regulasi/legal (political/regulatory/legal factors), lingkungan alam (the natural environment)dan demografi (demographics).” Sementara itu Hitt, Ireland dan Hoskisson14 (2007) menulis “Lingkungan luar terdiri dari dimensi-dimensi yang berada di dalam lingkup masyarakat yang lebih luas yang mempengaruhi suatu industri tertentu dan perusahaan-perusahaan yang ada di dalamnya. Lingkungan tersebut mencakup 6 komponen yaitu ekonomi, sosiokultural, global, teknologi, politik/legal dan demografi.” Jim Riley16 (2012) dari National University of Singapore menyatakan “Faktor utama dari lingkungan luar yang mempengaruhi bisnis adalah level persaingan yaitu berapa tinggi bisnis-bisnis lainnya bersaing dengan produk-produk perusahaan. Faktor-faktor lainnya dari lingkungan bisnis adalah sosial, legal, ekonomi, politik dan teknologi dan etika.” Sebagai pembanding juga disampaikan apa yang tertulis di Wikipedia21 (2013) dimana ditulis ada 6 faktor lingkungan makro dimana faktor-faktor tersebut secara tidak langsung mempengaruhi organisasi tetapi tidak dapat dikendalikan mereka yaitu faktor-faktor politik, faktor-faktor ekonomi, faktor-faktor sosiokultural, faktor-faktor teknologi, faktor-faktor lingkungan, faktor-faktor legal, factor-faktor ekologi, dan potential supplies.

Dari ke empat sumber referensi tersebut diatas ada 6 hingga 7 komponen dari lingkungan makro suatu industri dan perusahaan-perusahaan yang berada di dalam industri tersebut. Dalam konteks pembahasan tulisan ini, Thompson et al. dan Wikipedia menyebut lingkungan makro sementara Hitt et al. dan Jim Riley menggunakan istilah lingkungan luar. Dalam model Thompson dan Wikipedia dikemukakan aspek lingkungan alam dimana hal ini tidak disebut dalam model yang disampaikan oleh Hitt et al. dan Jim Riley. Memang dalam dua tahun belakangan ini telah terjadi perubahan iklim yang cukup ekstrim sehingga berpengaruh terhadap banyak aspek yang berkaitan dengan kehidupan manusia seperti produksi makanan, pola penyakit, dan tingginya tingkat kematian penduduk. Selain itu muncul konsep-konsep seperti eco-turism, green energy, green marketing dan lain-lainnya. Jadi munculnya aspek lingkungan alam dalam model Thompson dapat mengelaborasi berbagai kejadian yang berkaitan dengan pengaruh lingkungan alam terhadap bisnis. Di masa lalu hal ini memang belum memberikan pengaruh secara langsung dengan lebih serius seperti saat ini.

Bila diperhatikan pada apa yang dikemukakan oleh Jim Riley, kompetisi masuk ke dalam lingkungan luar. Penulis menjelaskan bahwa dengan masuknya factor kompetisi dalam lingkungan luar akan dapat menunjukkan berapa besar tekanan persaingan dari bisnis lainnya terhadap produk-produk perusahaan. Bila diperhatikan konteks penjelasan ini maka yang dimaksud oleh Jim Riley adalah tekanan persaingan yang terjadi di dalam lingkungan industri. Jika dirujuk dengan buku Thompson yang menjadi pegangan utama kuliah program MM IM Telkom ini maka persaingan tersebut masuk ke dalam lingkungan persaingan dan yang berpengaruh langsung dengan industri (immediate industry and competitive environment). Berkaitan dengan pembahasan aspek kompetisi ini, muncul pertanyaan yang menarik bagaimana dengan persaingan yang bersifat global yang terjadi di antara negara-negara maupun perusahaan-perusahaan global. Hal ini bisa juga dilihat konteksnya sejauh mana mempengaruhi persaingan di industry, jika ada pengaruh langsung maka dapat dimasukkan dalam analisis di tingkat industry, misalnya masuk dalam aspek tekanan substitusi. Namun jika tidak bias di tempatkan ke dalam analisis industri maka dapat juga ditempatkan dalam faktor tekanan global seperti yang diuraikan dalam model Thompson.

Aspek lainnya yang menarik di bahas dalam diskusi kelas adalah factor etika yang dimunculkan tersendiri oleh Jim Riley, faktor lingkungan (daya saing, buangan limbah, konsumsi energy, dan pemantauan polusi), faktor ekologi (pengaruh pada perilaku pembelian pelanggan dan pengaruh terhadap proses produksi perusahaan) dan potential supplies (suplai tenaga kerja, suplai material, penyedia jasa terutama yang berkaitan dengan persyaratan atau keperluan khusus) dalam model Wikipedia.

Berikut ini akan diberikan beberapa contoh saja apa yang dikemukakan Thompson et al. yang menyatakan aspek-aspek kondisi ekonomi umum antara lain mencakup kecepatan pertumbuhan ekonomi, tingkat pengangguran, tingkat inflasi, defisit atau surplus perdagangan, dan tingkat tabungan. Besaran-besaran tersebut baik di tingkat lokal, provinsi, nasional atau internasional mempengaruhi perusahaan-perusahaan dan industri-industri.  Sementara itu tekanan-tekanan global seperti kondisi dan perubahan-perubahan dalam pasar global termasuk peristiwa-peritiwa politik dan berbagai kebijakan yang berkembang pada perdagangan internasional. Juga mencakup praktek-praktek sosiokultural dan lingkungan institusional dimana pasar global beroperasi.

Faktor-faktor teknologi mencakup kecepatan perubahan teknologi yang mempengaruhi berbagai kehidupan sosial seperti rekayasa genetik, internet, dan perkembangan teknologi komunikasi. Lingkungan alam terdiri dari cuaca, iklim, perubahan iklim dan faktor-faktor yang berkaitan seperti kekurangan air. Faktor-faktor yang telah disebutkan tersebut dapat berpengaruh langsung pada industri-industri seperti asuransi, perkebunan, produksi energi dan turisme. Aspek politik/legal dan regulasi seperti proses-proses dan kebijakan politik, regulasi dan hukum dimana perusahaan-perusahaan harus memenuhi berbagai faktor tersebut. Contohnya hukum tenaga kerja, hukum antitrust, kebijakan pajak dan lain-lain. Mengenai tekanan sosial seperti nilai-nilai sosial, faktor-faktor budaya dan gaya hidup yang mempengaruhi bisnis. Aspek demografis mencakup antara lain jumlah, tingkat pertumbuhan, dan distribusi umur dari berbagai segmen populasi penduduk.

Beberapa Ilustrasi Faktor-Faktor Lingkungan Makro

Ekonomi Dunia

Berikut ini akan disampaikan beberapa ilustrasi gambaran keadaan ekonomi dunia. Bank Indonesia4 dalam laporannya pada triwulan dua tahun 2012 menyatakan “Ekonomi dunia selama triwulan 2 tahun 2012 diperkirakan semakin menurun. Memburuknya sovereign debt crisis yang disertai dengan meningkatnya kerentanan perbankan di Kawasan Euro, khususnya Spanyol dan Italia, menjadi faktor utama pemburukan ekonomi dunia. Komisi Eropa di Brussels5 pada tanggal 29 April 2013 melaporkan “Indeks eksekutif dan konsumen di zona Euro turun menjadi 88,6 pada April 2013 dari 90,1 pada Maret 2013 dimana angka ini terendah sejak Desember 2012. Demikian juga dengan sentimen manufaktur dan juga jasa mengalami penurunan.” Presiden Bank Sentral Eropa  Mario Draghi5 menyatakan “Bailout Siprus yang bermasalah telah memberi ketidakpastian di Eropa namun diperkirakan aka nada pertumbuhan walaupun tidak terlalu tinggi pada paruh ke dua tahun 2013 ini.”

 Data ekonomi terkini4 juga menunjukkan ekonomi AS masih relatif rentan dan penuh ketidakpastian. Selain memburuknya ekonomi negara maju, momentum pertumbuhan di negara utama emerging Asia juga cenderung tertahan akibat perlambatan ekspor dan moderasi permintaan domestik tidak terkecuali di Cina, India, Korea, dan Brazil. Perlambatan ekspor itu juga disebabkan oleh turunnya harga komoditas. Meskipun melambat, ekonomi di Asia masih relatif solid yang ditopang oleh masih tingginya permintaan domestik. Berlanjutnya ketidakpastian pasar keuangan global juga meningkatkan kerentanan sektor eksternal di beberapa negara emerging termasuk India.” Jadi ditengah masalah yang dihadapi oleh Eropa dan Amerika Serikat, Asia menjadi harapan perkembangan ekonomi dunia yang ditopang oleh permintaan domestic masing-masing Negara tersebut.

Berkaitan dengan perkembangan ekonomi Asia, IMF8 memperingatkan negara-negara berkembang di Asia “Agar tidak terlena dengan kinerja ekonomi yang tumbuh agar tidak terperangkap dalam jebakan kelas pendapatan menengah (middle-income trap). Jebakan tersebut berupa situasi dimana ekonomi terancam stagnasi pada level kelas menengah dan gagal lolos ke peringkat ekonomi maju.” Selanjutnya IMF menegaskan India, Filipina, Cina dan Indonesia perlu memperbaiki insitusi pemerintah yang mengurusi perekonomian, sedangkan India, Filipina, dan Thailand juga terancam perlambatan akibat infrastruktur yang tidak memadai.”

Berkenaan dengan regulasi Bank dan pengawasannya,  Cihák, Demirgüç- Kunt, Martínez Pería, dan Mohseni- Cheraghlou18 yang dikutip World Bank ResearchDigest menyatakan “Negara-negara yang mengalami krisis dewasa ini secara signifikan memiliki kerangka pengawasan dan regulasi yang relatif lemah dibandingkan dengan negara-negara yang dapat menghindari pengaruh langsung dari krisis. Selain itu regulasi yang rumit mengakibatkan sulit di monitor dan dilakukan melaksanakannya sehingga memberikan kontribusi pada ketidakstabilan financial. Bank-bank di negara-negara yang mengalami krisis tersebut menghadapi beberapa  restriksi. Regulatornya juga kurang mampu memaksakan langkah-langkah koreksi (misalnya pada kasus rekapitalisasi dan suspense atas bonus) pada bank-bank yang menghadapi masalah.

Ekonomi dunia juga dipengaruhi oleh perkembangan iklim. Firmanzah9 menegaskan perubahan iklim dan cuaca ikut meningkatkan volatilitas harga pangan dunia. Salah satu faktor yang menyebabkan hal ini yaitu kekeringan yang terjadi di Amerika Serikat ditambah dengan aksi borong negara importir untuk mengamankan pasokan dalam negerinya. Resiko akan hal ini masih akan tetap tinggi mengingat unpredictability perubahan iklim dan cuaca pada 2013. Demikian juga dengan potensi gangguan yang berasal dari konflik di Asia. Contohnya Firmanzah9 mengkhawatirkan atas potensi destabilitas kawasan terkait dengan konflik kepulauan Senkaku/Diaoyu antara dua kekuatan ekonomi terbesar Asia yaitu Jepang dan China menciptakan kekhawatiran baru. Konflik terbuka antara kedua negara sangat dikhawatirkan mengganggu kinerja ekonomi kawasan dan juga Indonesia.

Masalah lapangan kerja perlu menjadi perhatian berbagai negara di dunia. Dalam laporannya, World Bank23 menyampaikan “Sekitar 200 juta orang adalah pemuda yang tidak bekerja dan aktif mencari pekerjaan.  Diperkirakan sekitar 620 juta penduduk usia muda dimana sebagian besar perempuan, tidak bekerja atau mencari kerja. Agar kecepatan kesempatan kerja konstan maka perlu di ciptakan 600 juta pekerjaan baru dalam tempo 15 tahun ke depan. Dewasa ini sekitar 3 miliar orang bekerja di seluruh dunia dimana hampir setengahnya adalah petani atau bekerja secara mandiri (self-employed).” Dikaitkan dengan situasi di Indonesia, Pemerintah perlu secara berkelanjutan menciptakan lapangan kerja secara luas. Dewasa ini dengan tingkat pengangguran sekitar 9 juta orang, sekitar 10 persen berasal dari sarjana. Pengembangan kewirausahaan yang sedang banyak dilakukan oleh berbagai pihak di Indonesia termasuk perguruan tinggi akan turut member kontribusi pada penciptaan berbagai lapangan kerja baru.

Ekonomi Indonesia

Secara umum ekonomi Indonesia pada tahun 2013 akan masih mengalami perkembangan positif yang ditopang oleh konsumsi domestik dan investasi. walau masih perlu hati-hati dengan perkembangan di Eropa dan Amerika Serikat. Firmanzah9 menyatakan “Terintegrasinya ekonomi Indonesia dengan perekonomian global membuat kita perlu terus mewaspadai arah dan trend ekonomi global. Perekonomian Indonesia relatif berhasil memitigasi dampak negatif krisis Sub-Prime Mortgage dan Krisis di Utang di Zona Eropa.“ sementara itu Dalam laporannya Bank Indonesia3 menyampaikan “Di tengah pelemahan ekonomi global yang masih berlanjut, perekonomian Indonesia pada tahun 2012 masih tumbuh 6,3%, terutama ditopang oleh konsumsi rumah tangga dan investasi. Inflasi tetap terkendali pada level yang cukup rendah dan berada pada kisaran sasaran inflasi 4,5%±1%. Sumber tekanan inflasi diperkirakan antara lain berasal dari peningkatan permintaan domestik. Kuatnya perekonomian domestik di tengah lemahnya ekonomi global menyebabkan meningkatnya defisit transaksi berjalan selama tahun 2012.”

Mengenai prospek tahun 2013, Bank Indonesia menyatakan “Pertumbuhan perekonomian domestik berkisar pada angka 63,% – 6,8% sejalan dengan perbaikan ekonomi dunia secara gradual yang didorong oleh konsumsi domestik dan investasi. Konsumsi rumah tangga berkisar antara 5,8%-6,2%. Investasi tumbuh pada angka 10,2% – 10,7%. Sementara itu pertumbuhan ekonomi tahun 2014 angkanya pada 6,7% – 7,2%.” Firmanzah9 menegaskan “Potensi ancaman krisis dunia masih tetap tinggi yang bersumber pada pemulihan krisis di Zona Eropa dan pelemahan ekonomi Amerika Serikat akibat program pengetatan belanja publik dan kenaikan pajak. Sebenarnya pada 2012, perekonomian nasional telah menerima dampak atas pelemahan ekonomi global. Strategi yang dilakukan seperti diversifikasi negara tujuan ekspor, import-substitution, hilirisasi dan industrialisasi akan terus dijalankan agar lebih menyeimbangkan ekspor-impor Indonesia pada 2013.” Fauzi Ichsan, ekonom senior Standard Chartered Bank2 secara optimis menyatakan “Pada tahun 2013 diperkirakan kondisi ekonomi global akan membaik karena krisis Eropa terlihat mulai berakhir. Kondisi tersebut sedikit banyak akan berpengaruh ke kondisi ekonomi Indonesia yang akan tumbuh hingga 6,5 persen pada tahun 2013.”

Bahan Bakar Minyak

Masalah BBM masih tetap menjadi masalah bagi Indonesia. Sejak Indonesia menjadi Negara net-importer hampir tiap tahun menjadi masalah baik bagi pemerintah maupun idustri, bisnis serta berbagai masyarakat lainnya. Bottom linenya cenderung harganya naik yang memberikan banyak konsekuensi di berbagai kehidupan masyarakat luas. Temanya selalu kepada anggaran negara, subsidi dan harga.

 

Kualitas Sumber Daya manusia

Perkembangan bisnis tidak terlepas dari kebutuhan kualifikasi sumber daya manusia yang lebih tinggi agar bisnis selalu dapat melakukan inovasi untuk meningkatkan daya saingnya. Ninasapti Triaswati dari Komite Ekonomi Nasional7 menyatakan “Dengan bergesernya tren investasi dalam negeri ke sektor pada modal maka membutuhkan kualifikasi tenaga kerja yang tinggi.”. disinilah pentingnya peranan pemerintah agar dapat focus dalam mengarahkan usaha-usaha peningkatan kualitas SDM. Misalnya dengan memberikan sector-sektor prioritasyang akan dikembangkan dan kebutuhan profesi-profesi yang akan mendukung perkembangan sector-sektor tersebut. Terjadinya gap antara kualitas SDM yang dibutuhkan dengan yang tersedia mengakibatkan terjadi risiko penurunan penyerapan tenaga kerja. Nina7 menunjukkan “Hal tersebut sudah terjadi dalam 3 tahun belakangan ini yaitu pada tahun 2010 penyerapan sebesar 544.000, kemudian tahun 2011 hanya setengahnya yaitu 225.000 dan tahun 2012 kembali menurun menjadi 180.000 tenaga kerja saja.”

Sosial Budaya

Banyak sekali aspek social budaya yang dapat dibahas yang telah mengalami perkembangan yang pesat seperti perkembangan kelas ekonomi menengah gaya hidup, demografi, pariwisata dan lain-lain. Sebagai ilustrasi dalam bagian ini akan dikemukakan perkembangan kelas menengah dan gaya hidup digital secara singkat.

Kelas menengah telah berkembang besar di Indonesia yang mencapai lebih dari 60 juta dan jumlah ini akan terus berkembang. Pendapatan mereka telah meningkat dengan pesat.

Asian Development Bank1 menyebutkan “ekonomi Indonesia sedang mengalami perkembangan positif. Selama dua tahun sebelumnya Indonesia mengalami pertumbuhan gross domestic product diatas 6 persen dan pada tahun 2012 diperkirakan pertumbuhannya tetap diatas angka 6 persen. Pertumbuhan ekonomi tersebut telah memberikan dampak positif pula pada pendapatan kelas menengah yaitu kelompok masyarakat yang memiliki pendapatan antara US$ 4 hingga US$ 20 per hari, telah meningkat dua kali lipat dibandingkan 10 tahun lalu. Tingkat pertumbuhan tersebut lebih tinggi dibandingkan dengan perkembangan di Filipina, Thailand, dan Malaysia.“ Pertumbuhan yang tinggi kelas ekonomi menengah tersebut mendorong  peningkatan kegiatan wisata di dalam dan luar negeri, perjalanan udara dan darat yang makin ramai, jumlah pelanggan seluler, penjualan kendaraan bermotor berupa mobil dan motor, pelayanan kesehatan di dalam dan luar negeri. Salah satu contoh adalah tercermin dari kinerja maskapai penerbangan. Sebagai ilustrasi terjadi peningkatan kinerja jumlah penumpang AirAsia Indonesia yang naik 38% menjadi 1,8 juta orang sepanjang kuartal I/2013 ini.

Munculnya gaya hidup digital dimana berbagai peralatan elektronik seperti handphone, computer dan berbagai gadget lainnya dijadikan penopang utama dalam menjalankan berbagai kegiatan pribadi mulai dari mengatur jadwal kegiatan, komunikasi suara, SMS, data dan gambar, transaksi perbankan, social media, pencarian informasi seperti letak rumah sakit, stasiu bahan bakar, bank dan lain-lainnya. Makin banyak keluarga yang mengirimkan anggota keluarganya sekolah ke perguruan tinggi di dalam dan luar negeri.

Penyebaran ICT

            Banyak terjadi perkembangan dalam bisnis ICT di tingkat global. Dalam pameran akbar ICT di Barcelona pada bulan Februari 2013 lalu banyak perusahaan pembuat handphone yang meluncurkan berbagai produk-produk da sistemnya. Sebagai contoh dalam pameran tersebut, Samsung11 telah meluncurkan Galaxy Note 8.0 yang merupakan produk tablet ukuran menengah yang memiliki ukuran layar 8 inchi dengan platform Android, dengan prosesor 1.6GHz-core processor dan integrated HSPA connectivity, akan muncul pada kuartal ke dua tahun 2013 ini.

Sementara itu Huawei12  juga meluncurkan Android smartphone baru dengan spesifikasi yang tinggi dengan layar 4,7 inchi dan 1,5 GHz quad-core processor. Juga diluncurkan pada kuartal ke dua tahun ini.

Demikian juga dengan perusahaan pembuat jaringan telekomunikasi. Contohnya Ericson10 telah mendapat pesanan dari Telefonica Inggris untuk meng-upgrade jaringannya dengan evolved packet core (EPC) sementara itu 50 persen BTSnya akan diganti dengan model RBS6000 multi-standard radio node Ericson. Sementara itu asosiasi industry GSMA13 menyantakan pendapatan operataor data akan melampaui pendapatan komunikasi suara secara global pada tahun 2018 yang di dorong oleh permintaan yang besar komunikasi mesin ke mesin (M2M).

Secara umum penyebaran ICT secara global mengalami perkembangan yang positif.    Dalam laporan evaluasinya, World Bank 15 menyampaikan selama sepuluh tahun terakhir, negara-negara berkembang telah mengalami pertumbuhan akses dan penggunaan ICT walaupun belum merata terutama pada telepon bergerak sehingga gap diantara dengara-negara berkembang dengan negara-negara maju makin kecil. Hal ini disebabkan pada sisi permintaan yang besar sementara pada sisi suplai karena terjadinya skala ekonomi dan inovasi dalam bisnis model yang telah di dukung oleh reformasi yang mendukung persaingan. Terjadinya pengurangan biaya komunikasi yang besar menyebabkan kemudahan akses bagi masyarakat miskin walaupun masih terjadi gap di negara-negara tertentu. Namun demikian pada sisi lain terjadi jarak yang makin besar pada akses internet kecepatan tinggi dan konektifitas broadband, pengembangan industri IT local, dan aplikasi ICT yaitu pada difusi dan penggunaan ICT pada bidang bisnis, jasa dan pemerintahan dimana ICT dapat memberikan impact pengembangan yang paling besar. Mengenai aplikasi ini, Valerie D’Costa, Program Manager of infoDev yang dikutip World Bank22 menyatakan teknologi aplikasi mobile masih dalam taraf awal perkembangannya namun memiliki potensi yang besar bagi tenaga kerja dan kegiatan ekonomi. Yang penting membangun inkubasi wirausaha serta jaringannya agar potensi bisnis aplikasi berkembang dengan cepat.

AT Kearney dan GSMA2 dalam laporannya menyampaikan hampir setengah dari populasi dunia telah menggunakan komunikasi bergerak. Sementara itu dalam 4 tahun belakangan ini jumlah pelanggannya sudah bertambah sekitar satu miliar pelanggan sehingga menjadi 3,2 miliar. Mereka memperkirakan akan terjadi penambahan sekitar 700 juta pelanggan sampai tahun 2017 dan pada tahun 2018 diperkirakan akan menjadi sekitar 4 miliar pelanggan secara global. Secara umum pertumbuhan akan bersumber dari emerging market terutama dari Asia Pasifik yang akan menambah 1,4 miliar hinggan 2017. Amerika Latin dan Afrika akan menambah sekitar 20 persen atau sekitar hampir 600 juta pelanggan baru. Sementara pasar Negara-negara maju cenderung rendah sekitra 1 persen per tahun karena pasarnya sudah jenuh.

Dengan munculnya teknologi 4G akan terjadi pertumbuhan yang tinggi pada layanan data yaitu diperkirakan tumbuh 66 persen per tahun hingga tahun 2017. Pertumbuhan pendapatan operator akan tertinggal dari pertumbuhan emakaian karena turunnya harga atau tariff secara berkelanjutan. Rata-rata pendapatan per pemakai akan turun di semua negara di dunia.

 

ASEAN Community 2015

Pembentukan Masyarakat Ekonomi ASEAN akan memberikan kesempatan dan tantangan bagi masing-masing negara termasuk Indonesia. Andy William Sinaga dari Labor Institute Indonesia17 menilai pada posisi sekarang Indonesia belum siap menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN dimana pemberlakukannya akan mempengaruhi dunia bisnis. Posisi Indonesia harus ditingkatkan terus agar dapat mengambil kesempatan ekonomi yang besar. Saat ini menurut data Global Competitiveness Report 2012-2013, Indonesia berada di peringkat 50 dari 144 negara dimana posisi ini berada di bawah Singapura yang berada di level 2, Malaysia 25, Brunei 28 dan Thailand 38. Demikian juga dalam bidang logistik. Bank Dunia mencatat indeks kinerja logistik dimana Indonesia berada di bawah Singapura di posisi 1, Malaysia 29, Thailand 38, Filipina 52 dan Vietnam 53.

Dalam Masyarakat Ekonomi ASEAN ada 12 sektor prioritas17   yang mencakup perikanan, e-travel, e-ASEAN, otomotif, logistic, industri berbasis kayu, industri berbasis karet, furnitur, makanan dan minuman, alas kaki, tekstil dan produk tekstil serta kesehatan. Indonesia harus dapat mempersiapkan sektor-sektor tersebut semaksimal mungkin, dalam hal ini usaha bersama yang saling mendukung. Selain itu pembangunan infrastruktur yang sedang dikembangkan dalam kawasan ekonomi kompetitif mencakup jaringan transportasi yang efisien, aman, dan terintegrasi; interkonektifitas dan interoperasional teknis di antara sistem-sistem ICT, perjanjian dalam e-commerce; kerja sama energi dalam biofuel, dan interkoneksi jaringan listrik dan pipa gas (jaringan listrik Trans ASEAN); perdagangan dan investasi geologi dan sektor mineral (tambang) serta menarik keterlibatan yang lebih besar sektor swasta.

 

Penutup

Dibandingkan dengan masa lalu misalnya sekitar 20 tahun lalu maka berbagai kejadian di lingkungan makro terjadi dengan sangat cepat dan sering dalam arah yang sulit diperkirakan seperti di masa yang lalu. Hal ini antara lain karena kemajuan teknologi informasi dan komunikasi yang sangat cepat dan masif dan teknologi transportasi. Salah satu contoh adalah dalam pengambilan keputusan yang sangat cepat segera setelah suatu peristiwa terjadi di Negara lain apakah bidang politik, legal, ekonomi. Segera saja dapat terjadi perpindahan dana yang besar dalam hitungan menit dari sebuah negara ke negara lainnya. Juga perpindahan orang dan barang yang cepat diantara satu kota ke kota lainnya dalam sebuah negara maupun ke negara lainnya. Dengan demikian para pebisnis harus terus menerus melakukan scanning lingkungan luar agar bisnisnya dapat mengantisipasi berbagai perubahan dengan cepat supaya bisnis tetap berkembang dan dapat mengatasi persaingan.

Sumber:

1.       Amani, Husni, 2013, Karakteristik Individu, Kinerja bauran Pemasaran, dan Kinerja Manajemen Kerelasian Pelanggan Terhadap Nilai Pelanggan serta Implikasinya pada Pangsa Pelanggan dan Loyalitas Pelanggan (Survei Pelanggan Pasca Bayar Seluler di Indonesia), Disertasi, UNPAD, Februari, hal. 173.

2.       AT Kearney dan GSMA, 2013, The Mobile Economy 2013, London.

3.       Bank Indonesia, 2013, Tinjauan Kebijakan Moneter: Evaluasi Perekonomian Tahun 2012, Prospek  2013-2014, dan Kebijakan Bank Indonesia, Januari.

4.       Bank Indonesia, 2012, Upaya Asia Menjaga Momentum Pertumbuhan: Perkembangan Ekonomi Keuangan dan kerjasama Internasional, Laporan Triwulan II-2012, Departemen Internasional, Jakarta.

5.       Bisnis Indonesia, 2013, Perekonomian Eropa: Ekonomi Zona Eropa Melemah, 30 April, hal. 7.

6.       Bisnis Indonesia, 2013, Kinerja Maskapai: Arus Penumpang AirAsia Naik 38%, 30 April, hal. 43.

7.         Bisnis Indonesia, 2013, Pergeseran Tren Investasi: Peningkatan Kualitas SDM Mendesak, 30 April, hal. 3.

8.         Bisnis Indonesia, 2013, Perekonomian Regional: Asia Diminta Waspadai Middle Income Trap, 30 April, hal. 7.

9.       Firmanzah, 2013, Ekonomi Global dan Resiko 2013, 06 Januari, http://www.setkab.go.id/artikel-6903-ekonomi-global-dan-resiko-2013.html, akses 28 April 2013 jam 05.24.

10.    GSMA, 2013, Ericssonclaims 4G deal strengthens #1 position, Mobile World Daily,Official Newspaper of Mobile World Congress 2013, 25th February, hal.1, Barcelona, Spanyol.

11.    GSMA, 2013, Samsung unveils latest Galaxy Note, Mobile World Daily,Official Newspaper of Mobile World Congress 2013, 25th February, hal.3, Barcelona, Spanyol.

12.    GSMA, 2013, Huawei launchesflagship 4G phone: global branding campaign, Mobile World Daily,Official Newspaper of Mobile World Congress 2013, 25th February, hal.6, Barcelona, Spanyol.

13.    GSMA, 2013, GSMA, 2013, Report: Global operator data revenues to surpass voice by 2018, Mobile World Daily,Official Newspaper of Mobile World Congress 2013, 25th February, hal.3, Barcelona, Spanyol.

14.Hitt, Michael A.; R. Duane Ireland; Robert E. Hoskisson, 2007, Strategic Management: Competitiveness and Globalization, Edisi 7, Thomson South-Western, USA.

15.    Independent Evaluation Group World Bank/IFC/MIGA, 2011, An Evaluation of  World Bank Group Activities in Information and Communication Technologies: Capturing Technology for Development, Washington DC.

16.Jim Riley, 2012, External Environment: introduction to the external environment, NUS Strategic Human Resource Management, 23 September, http://www.tutor2u.net/business/gcse /external_environment_ introduction.htm, akses 3 Mei 2013, jam 06.30.

17.    KOMPAS, 2013, Tenaga Kerja Asing Masuk: Persaingan Konstruksi ASEAN Kian Ketat, 29 April, hal.19.

18.    Martin Cihák, Aslı Demirgüç-Kunt, Maria Soledad Martínez Pería, and Amin Mohseni- Cheraghlou, 2012,  Bank Regulation and Super­vision around the World: A Crisis Update, Policy Research Working Paper 6286, World Bank, Washington, DC. dalam World BankResearchDigest, 2013, Bank Regulation and Supervision: A Crisis Update.

19.    Swa, 2013, Inilah Gambaran Ekonomi dan Bisnis Indonesia 2013, http://swa.co.id/business -research/inilah-gambaran-ekonomi-dan-bisnis-indonesia-2013, akses 28 April 2013, jam 06.09.

20.Thomson, Arthur A.; Margaret A. Peteraf; John E. Gamble; A.J.Strictland III, 2012, Crafting and Executing Strategy: The Quest for Competitive Advantage-Concepts and Cases,Global Edition, McGraw Hill, New York.

21.Wikipedia, http://en.wikipedia.org/wiki/Environmental_scanning, akses 3 Mei 2013 jam 06.45.

22.    World Bank, 2012, Mobile Phone Access Reaches Three Quarters of Planet’s Population, Press Release, 17 Juli, Washington. 2012

23.    World Bank, 2013, Moving Jobs Center Stage, world development report, Washington.

 

Posted in Uncategorized | Leave a comment

INOVASI TEKNOLOGI: Menjamin Keunggulan Bersaing Perusahaan

 

 

Paper ini dibuat sebagai bahan kuliah Manajemen Teknologi pada Program MM Corporate Development yang diberikan pada hari Jum’at 26 April 2013. Harapan saya  untuk mengajak mahasiswa berfikir lebih dalam lagi agar dapat dikembangkan berbagai pemikiran untuk mengembangkan inovasi. Pada bagian tulisan ini dikaitkan pula dengan situasi di Indonesia agar diperoleh pemahaman serta dapat mengapresiasi apa yang telah dilakukan atau dicapai oleh perusahaan-perusahaan tersebut.

Makalah ini akan membahas bagaimana pola inovasi industri secara umum dengan menggunakan model yang telah  dikembangkan oleh Abernathy dan Utterback.

 

Pola Inovasi industri

Bagaimana pola inovasi industri?. Abernathy dan Utterback telah membuat sebuah model yang menggambarkan bagaimana inovasi dalam sebuah perusahaan akan berubah sejalan dengan perkembangan perusahaan . Secara alamiah sebuah perusahaan mulai terbentuk dalam ukuran yang masih kecil dimana kemudian sejalan dengan perkembangan bisnisnya perusahaan tersebut mulai berkembang melalui  pendapatan dan keuntungan yang makin besar. Akhirnya perusahaan tersebut sampai kepada masa dewasa serta memperoleh pendapatan maupun laba yang besar sebagai hasil dari hasil inovasi maupun pengembangan bisnisnya. Kedua ahli tersebut menyampaikan juga banyak inovasi serta proses yang terjadi mempunyai korelasi dengan analisis historis seperti yang telah dikemukakan diatas. Dengan model tersebut, Abernathy dan Utterback mampu menjawab pertanyaan-pertanyaan kritis sebagai berikut:

1.      Bagaimana perkembangan inovasi yang akan terjadi dalam sebuah perusahaan sepanjang pertumbuhan perusahaan menuju ke dewasa?.

2.      Apakah ada suatu situasi dimana sebuah pola inovasi yang sukses, juga berkaitan dengan suatu kesalahan yang telah terjadi?.

3.      Pada situasi seperti apa teknologi baru akan tersedia sehingga memberikan dorongan suatu  perubahan?.

4.      Kapan inovasi yang bersifat incremental serta produktifitasnya akan mencapai nilai yang maksimum bagi sebuah perusahaan?.

5.      Dalam situasi seperti apa strategi menyebabkan ketidakstabilan dan menjadi potensi terjadinya krisis dalam sebuah organisasi?

Dalam penjelasannya Abernathy dan Utterback member contoh pola inovasi teknologi pada produk-produk yang sudah maju yang diproduksi dalam volume yang besar seperti lampu bulb incandescent, kertas, besi baja, bahan kimia standar, serta internal-combution engines. Kedua ahli tersebut menyatakan pasar produk-produk tersebut sudah terdefinisi dengan baik, karakteristik produknya sudah sangat dipahami secara luas dan sering telah terstandar, profit margin per unitnya rendah, teknologi produksinya sudah efisien, intensif pada peralatan dan bersifat sangat khusus bagi produk-produk tertentu serta terjadi persaingan harga. Bila terjadi perubahan pada sistem produksinya maka biayanya sangat mahal karena adanya sistem yang terintegrasi sehingga bila terjadi perubahan pada salah satu bagian dari  sistem produksi maka akan mengakibatkan perubahan pada bagian lainnya pula. Hal ini dapat dilihat dari kasus dimana lebih dari separuh pengurangan biaya produksi rayon di du pont de Nemours merupakan hasil dari perbaikan yang telah dilakukan secara gradual sehingga hal tersebut tidak dapat dikatakan sebagai hasil dari sebuah proyek yang formal atau perubahan formal. Contoh lainnya pada perbaikan proses penyulingan minyak yang merupakan hasil dari peningkatan perbaikan proses secara terus menerus sehingga proses yang ada sekarang telah dapat meningkatkan produktifitas penyulingan. Kedua kasus tersebut merupakan hasil dari banyak inisiatif perbaikan dan pengembangan yang bersifat minor. Pada kasus ini inovasi yang muncul bersifat incremental serta memiliki pengaruh gradual sehingga menimbulkan efek kumulatif pada produktifitas. Demikian apa yang disampaikan oleh Abernathy dan Utterback dalam tulisannya.

Pada sisi lain berbagai produk baru nampaknya tidak mengikuti pola perubahan incremental seperti diatas. Produk baru tersebut membutuhkan perubahan sasaran perusahaan atau fasilitas produksi yang cenderung berasal dari luar perusahaan. Namun bila hal itu berasal dari dalam cenderung akan ditolak banyak pihak dalam perusahaan tersebut.

Sebuah pola perubahan produk yang mengikuti pola fluid pattern biasanya berkaitan dengan usaha untuk mengidentifikasikan kebutuhan yang muncul atau cara baru untuk memenuhi kebutuhan yang ada sekarang. Hal demikian merupakan tindakan yang bersifat entrepreneurial. Keunggulan produk baru tersebut terhadap yang lama terletak pada performansi fungsional yang superior bukan pada biaya awal yang lebih rendah. Inovasi yang radikal semacam itu biasanya cenderung membuka kemungkinan perusahaan memperoleh keuntungan yang lebih tinggi.  Ketidakpastian akan kebutuhan performansi pada produk baru memberikan keunggulan dalam inovasi kepada perusahaan yang berukuran kecil dan masih fleksibel. Selain itu organisasi demikian memiliki pendekatan teknis yang fleksibel serta mampu melakukan komunikasi ke luar dengan baik. Bukti-bukti yang ada mendukung hipotesa tersebut.

 

Mengelola Inovasi Teknologi

Bila sifat dan sasaran inovasi industri berubah sejalan dengan proses dewasanya sebuah organisasi atau perusahaan mulai dari sebagai pionir kemudian menjadi sebuah produser dengan skala besar, apa implikasinya bagi manajemen teknologi?. Dalam hal ini sejalan dengan pertumbuhan perusahaan maka sasaran inovasi berkembang dari yang bersifat kurang terdefinisi dan  target yang tidak jelas menjadi sebuah sasaran yang terdefinisi dengan sangat baik dan tegas. Pada tahap awal perkembangan perusahaan, kebutuhan performansi produk dan kriteria disain sering kali tidak dinyatakan secara kuantitatif serta tingkat kepentingannya juga tidak stabil, sering berubah-ubah. Namun sejalan dengan pertumbuhan perusahaan menjadi lebih besar lagi maka ketidak pastian pasar dan target-target menjadi berkurang dan investasi dalam jumlah besar pada kegiatan R&D menjadi dapat lebih dipertanggung jawabkan secara logis.

Penjelasan selanjutnya dapat dilihat pada lampiran 1 mengenai perubahan karakter inovasi dan perubahan perannya sejalan dengan kemajuan perusahaan. Berikut ini diberikan penjelasan dua aspek saja dari 9 aspek keseluruhannya. Perhatikan pada aspek persaingan yang berkembang sejalan dengan pertumbuhan perusahaan dimana pada perusahaan masih awal (fluid pattern) penekanannya pada aspek performansi fungsi produk seperti pada handphone pada fungsinya dalam melakukan komunikasi seperti kemudahan memegang handphone, ukuran handphone dan kemudahan mengoperasikan handphone. Kemudian setelah perusahaan berkembang (transitional pattern) persaingan juga bergeser pada variasi produk dan akhirnya setelah perusahaan mencapai dewasa (specific pattern) maka persaingan menjadi masuk ke dalam pengurangan biaya handphone. Demikian juga dengan proses produksi dimana pada awal perkembangan perusahaan bersifat fleksibel dan tidak efisien, perubahan-perubahan yang signifikan mudah diakomodasi, selanjutnya berkembang menjadi lebih kaku, dengan perubahan terjadi pada langkah-langkah utama saja. Akhirnya proses produksi menjadi efisien, terjadi intensifikasi modal , prosesnya menjadi lebih kaku, dan biaya perubahan menjadi lebih tinggi.

Hal lain yang tidak kalah pentingnya berkaitan dengan inovasi dalam perusahaan adalah peran dari sumber daya manusia. Satu hasil penelitian mengenai hal ini yang dilakukan oleh Professor Fiona Patterson dan tim dari City University, London. dapat dilihat pada lampiran.

 

Perusahaan Inovatif di Dunia

Berkaitan dengan model Abernathy dan Utterback diatas maka perusahaan-perusahaan global yang berada dalam daftar ranking sudah termasuk perusahaan yang sudah masuk dalam specific pattern. Fasilitas produksinya sudah masuk dalam skala besar yang sangat spesifik pada produk-produk tertentu. Berdasarkan penilaian Majalah Business Week, pada tahun 2011 ada sebelas perusahaan paling inovatif di dunia berdasarkan ranking dibawah ini:

                    Tabel 1. Ranking Perusahaan Inovatif

Ranking

Nama Perusahaan

1

Apple

2

Google

3

Microsoft

4

IBM

5

Toyota Motor

6

Amazon

7

LG Electronics

8

BYD (produser mobil dari Cina)

9

General Electric

10

Sony

11

Samsung

Apple menjadi perusahaan inovatif yang paling terkenal dengan produk-produk seperti iPod, iPhone, iMac, dan iPad. Sementara itu Google pada posisi ke dua karena berhasil meluncurkan Android yang merupakan sistem operasi open source untuk smartphone. Produk utama Google yaitu  search engine sudah lama tidak mengalami inovasi yang signifikan. Sementara itu LG Electronics melampaui Sony dan Samsung yang menjadi pionir dalam televisi LED serta berhasil mengembangkan Galaxy Tab yang sangat laris.

Perusahaan-perusahaan diatas secara rutin tetap melakukan akusisi perusahaan-perusahaan high-tech berukuran kecil maupun sedang yang inovatif agar mereka selalu dapat menghasilkan produk-produk baru. Memang dengan membeli perusahaan-perusahaan tersebut, kemampuan inovasi perusahaan-perusahaan besar tersebut tetap berkembang. Selain itu sesuai yang disampaikan oleh Hayes perusahaan-perusahaan high-tech yang sukses, ada unit yang dikelola secara berbeda dengan unit lainnya. Ada unit kerja yang dikelola karena tuntutan inovasi yang tinggi sementara itu unit lainnya secara normal dengan memperhatikan prinsip-prinsip efisiensi.

 

Inovasi di Indonesia

Dalam bagian sebelumnya telah dibahas mengenai perubahan pola inovasi sejalan dengan perkembangan sebuah perusahaan. Berikut ini akan disinggung mengenai bagaimana situasi inovasi secara umum pada perusahaan-perusahaan ukuran kecil dan menengah di Indonesia?. Untuk memenuhi tujuan tersebut diambil beberapa contoh saja dari penelitian-penelitian yang telah dilakukan sebagai gambaran awal saja. Tentu saja apa yang diuraikan disini belum menggambarkan situasi umumnya perusahaan kecil dan menengah di Indonesia.

Situasinya cukup beragam. Penelitian yang dilakukan oleh Rahab pada tahun 2009 bertujuan untuk menguji karakteristik Teknologi Informasi (TI) pada kemungkinan usaha kecil untuk mengadopsi TI tersebut. Sampel diambil dari 102 perusahaan kecil di Yogyakarta. Hasil penelitian menunjukkan bahwa persepsi pemilik usaha kecil mengenai manfaat relatif dari TI akan mendorong mereka untuk mengadopsinya. Persepsi pemilik perusahaan mengenai kerumitan dari TI dan biaya investasi TI yang harus dikeluarkan mempunyai pengaruh negatif kepada pemilik usaha kecil untuk mengadopsi TI diperusahaanya. Dalam hal ini memang secara umum perusahaan-perusahaan kecil sangat terbatas dananya untuk melakukan investasi. Dengan berkembangnya jasa layanan cloud computing dapat membantu mereka dalam memanfaatkan teknologi IT untuk kepentingan bisnis mereka. Adanya TI diharapkan secara sistematis akan meningkatkan inovasi di perusahaan-perusahaan kecil dan menengah.

Penelitian lainnya yang dilakukan oleh Soleh menunjukkan peningkatan kinerja UKM manufaktur di Kota Semarang dapat dicapai melalui penerapan strategi inovasi perusahaan, tingkat kemampuan perusahaan melakukan investasi dan pandangan kedepan perusahaan dalam melakukan orientasi kepemimpinannya yang tinggi. Semakin baik penerapan strategi inovasi serta kemampuan pengusaha UKM manufaktur dalam orientasi kepemimpinannya dan keberaniannya dalam meningkatkan investasi maka semakin meningkat pula kinerja UKM. Orientasi kepemimpinan dapat memberikan pengaruh terhadap strategi inovasi UKM manufaktur di Kota Semarang. Strategi inovasi berpengaruh positif terhadap tingkat investasi perusahaan.

Penelitian Hartini bertujuan untuk menjelaskan dampak inovasi terhadap kualitas produk dan kinerja bisnis dari usaha kecil dan menengah yang memproduksi mebel di Jawa Timur. Hasil-hasil penelitian menunjukkan adanya peran inovasi terhadap kualitas produk serta peran kualitas produk terhadap kinerja bisnis. Dalam penelitian lainnya yang dilakukan  Ellitan pada tahun 2006 menyatakan strategi inovasi yang tepat sangat diperlukan dalam meningkatkan kinerja finansial perusahaan dan kinerja keseluruhan. Inovasi produk, penggunaan sumber inovasi eksternal dan investasi teknologi berperan dalam meningkatkan net profit margin. Untuk memperbaiki pertumbuhan penjualan diperlukan investasi teknologi lebih besar. Proses inovasi dan investasi diperlukan dalam meningkatkan return on asset.Sementara itu Hadiyati menyatakan kreatifitas dan inovasi berpengaruh secara simultan terhadap kewirausahaan dengan variabel inovasi memiliki pengaruh yang lebih besar terhadap kewira-usahaan. Obyek penelitian ini adalah para pemilik atau pengusaha Usaha Kecil Bengkel Las yang jumlahnya 53 pengusaha di Kecamatan Pujon Kabupaten Malang.

Jadi secara umum inovasi memberi pengaruh positif terhadap perkembangan bisnis usaha kecil dan menengah. Tentu saja perlu dilakukan sosialisasi dan peningkatan inovasi secara terus menerus  kepada industry kecil dan menengah.

 

Perusahaan Inovatif di Indonesia

 

Sebuah unit bisnis harus inovatif agar bisa berkembang dan bersaing di pasar. Survei yang dilakukan oleh Development Dimension Internasional memberi peringatan agar perusahaan di Indonesia harus inovatif supaya mampu menghadapi persaingan yang semakin ketat pada era perdagangan bebas yang akan datang. Survei yang dilakukan di 44 negara di dunia menunjukkan perusahaan-perusahaan di Cina memiliki inovasi paling tinggi dibandingkan dengan perusahaan lainnya di dunia. Berkaitan dengan situasi di Indonesia, hasil survei Bank Indonesia pada lebih dari 29.000 perusahaan dengan ukuran sedang dan besar di seluruh Indonesia pada tahun 2010 menunjukkan dua persen perusahan yang melakukan inovasi teknologi secara intensif.
Menteri Negara Riset dan Teknologi Suharna Surapranata mengatakan selama sektor industri di Indonesia belum memanfaatkan inovasi teknologi untuk mengembangkan produk-produk nasional yang kompetitif di pasar global, maka daya saing sulit diharapkan untuk meningkat.

Pada dasarnya Indonesia banyak memiliki perusahaan-perusahaan yang inovatif baik BUMN maupun swasta. Inovasi adalah pilar penting bagi pengembangan bisnis di era yang kompetitif. Sebagai contoh PT. Semen Indonesia selalu melakukan inovasi agar dapat mempertahankan sekaligus mengembangkan posisi sebagai pemimpin pasar di industri semen nasional. Dalam rangka mencari ide-ide yang inovatif untuk melakukan perbaikan sistem produksi, PT Semen Indonesia telah mengundang berbagai pihak untuk memasukkan usulannya. Akhirnya perusahaan menerima 178 proposal berisi konsep inovasi dalam upaya efisiensi perusahaan senilai Rp 639 miliar. Proposal tersebut diperoleh dari kalangan pegawai dalam sebuah tim, baik itu di lingkungan Semen Indonesia, Semen Gresik, Semen Tonasa maupun Semen Padang. Proposal tersebut terdiri dari lima kategori yaitu kategori bahan baku dan produk, teknologi dan proses produksi tambang-Raw Mill, teknologi dan proses produksi Kiln-Finish Mill, manajemen, serta kategori anak perusahaan dan afiliasi. Semua konsep inovasi itu dianggap sukses apabila nilai yang diciptakan lebih besar dari biaya yang dikeluarkan untuk pengembangannya.

Bagi yang proposalnya diterima, pengusul akan mendapatkan bimbingan pengembangan materi inovasi dari berbagai aspek seperti teknis, analisa fungsi dan nilai, hingga manajemen risiko. Kegiatan ini telah dijalankan sejak tahun 2010 dalam Semen Indonesia Award On Innovation (SIAI). Tahun 2012 lalu, hanya 125 proposal yang diterima dewan juri dan sekarang menjadi 178 proposal. Nilai efisiensinya juga meningkat dari Rp 593 miliar pada tahun lalu, menjadi Rp 639 tahun ini. Ini menunjukkan respon pegawai sangat antusias dalam menyuburkan budaya inovasi dan efisiensi di perusahaan.

Operator telekomunikasi merupakan perusahaan yang inovatif. Dalam TechLife Innovative Award (TIA) 2012, Telkomsel meraih anugerah sebagai The Best Innovative Operator of The Year disamping meraih tiga penghargaan bergengsi lainnya dalam kategori operator telekomunikasi yaitu The Best Innovative Marketing Programme: Telkomsel Kartu As gratis 1000 SMS, The Best Innovative VAS: Telkomsel Dunia Games, dan The Best Innovative Corporate Communication Campaign: Telkomsel Paling Indonesia. Penetapan penghargaan tersebut berdasarkan penilaian secara  kualitatif dan kuantitatif. Metode kualitatif dilakukan menyaring produk-produk yang rilis sepanjang 2012 dan melakukan uji coba, review dan diskusi panjang apakah produk tersebut layak masuk nominasi penerima penghargaan atau tidak.

Blue Bird adalah sebuah perusahaan taksi yang sukses, berkembang dari satu mobil sebagai taksi gelap pada tahun 1965. Sekarang jumlah armadanya sebanyak 26 ribu unit dengan jumlah karyawan sebesar 140 orang. Bagaimana mengenai inovasi?. Dr.H. Purnomo Prawiro sebagai pemilik dan presiden direktur PT Blue Bird menyatakan penting perbaikan yang berkelanjutan atau continuous improvement. Dengan jumlah kendaraan yang besar tersebut harus ada teknologi supaya tetap bias mengontrol operasi taksi-taksi tersebut termasuk faktor kejujuran yang merupakan salah satu key success factor yang mereka andalkan. Inovasi pertama adalah layanan taksi panggilan dengan menggunakan radio pada tahun 1970, kemudian menggunakan pendingin AC yang waktu itu belum ada taksi yang menggunakannya. Selanjutnya Blue Bird menggunakan teknologi global positioning system (GPS). Pada akhir tahun 2012 mereka memasang electronic data capture serta dilengkapi pula dengan GPS langsung dengan peta. Dalam hal ini bila sebuah taksi dapat order, pengelola langsung tahu di mana lokasinya. Dengan kesuksesan Blue Bird Singapura dan Juga Kementerian Perhubungan Malaysia belajar ke perusahaan yang inovatif ini.

Perusahaan lainnya yang inovatif adalah PT. Mustika Ratu Tbk. Yang didirikan oleh BRA Mooryati Soedibyo. Beliau meristis bisnis jamu dan kosmetik sejak tahun 1973 dimana ia berangkat dari modal kecil yang berawal dari garasi rumahnya dengan modal Rp 25.000 hingga saat ini telah memiliki ribuan pekerja. Katanya “Dalam mengembangkan bisnis yang penting niat dan kerja keras. Kalau ada niat do it maka itu akan menjadi duit.” Mooryati lebih lanjut menegaskan “Pada era globalisasi, pelaku bisnis dituntut selalu inovasi, kreatif dan mampu beradaptasi pada setiap perubahan. Dengan begitu produk-produk lokal di tanah air bias bertahan, kendati menghadapi serbuan produk dari negara-negara luar.”

Inovasi yang terjadi di perusahaan juga tidak lepas dari peran pemimpinnya. Kata Angel Cabrera dan Gregory Unruh dalam bukunya Being Global, leaders make a difference. Direktur Utama PT Telkom, Arief Yahya, menerima penghargaan sebagai “CEO Inovatif untuk Negeri” dari Majalah GATRA pada ajang “Penghargaan CEO Inovatif untuk Negeri”, pada tanggal 15 April 2013 yang lalu. Penghargaan tersebut diberikan sebagai bentuk apresiasi terhadap para CEO yang inovatif, tidak hanya mampu memberikan kinerja positif bagi perusahaan, tetapi juga untuk kemajuan dan perubahan ke arah yang lebih positif kepada bangsa Indonesia. Menurut GATRA ada 5 syarat untuk menjadi CEO yang inovatif, yaitu kemampuan berpikir strategis, membuat keputusan yang tepat, tahu bagaimana membuat simpul antara sumber daya manusia yang tepat dan strategis yang ia gariskan, excellent, dan berorientasi pada hasil. GATRA memberikan penghargaan kepada 23 CEO BUMN dan perusahaan swasta di Indonesia.

Demikianlah inovasi harus menjadi semangat baik di tingkat individu apalagi pemimpin maupun di tingkat perusahaan. Dengan demikian banyak pihak yang akan mendorong inovasi menjadi realita di lapangan.

 

Penutup

Dalam setiap tahap perkembangan sebuah perusahaan, harus dilakukan inovasi agar terjadi pertumbuhan perusahaan yang berkualitas dan tahan lama. Hal ini ditunjang oleh sumber daya manusia di perusahaan mulai dari pegawai hingga ke pimpinan tertinggi. Bila lingkungan kondusif maka inovasi akan memberi keunggulan bersaing yang terus menerus kepada perusahaan dimana hal ini pada akhirnya akan meningkatkan keunggulan bangsa Indonesia tentunya.

 

Sumber:

1.       Abernathy, William J., James M. Utterback, 1978, Technological Evolution, Strategic Management of technology and Innovation, 5th edition, McGraw-Hill, International, 2009, New York.

2.       Antariksa , Yodhia, 2011, Ranking-Perusahaan-Paling-Inovatif-2011, http://strategimanajemen.net/2011/05/09/ranking-perusahaan-paling-inovatif-2011/, akses jam 17.15, 22 April 2013.

3.       Prawiro, Purnomo, 2013, Lunch With CEO Blue Bird: Gunakan Human Touch, Wawancara, Bisnis Indonesia, 24 April, hal. 10.

4.       Cabrera, Angel; Gregory Unruh, 2012, Being Global: How to Think, Act, and Lead in a Transformed World, Harvard Businness Review Press, 2012, Boston, p. 169.

5.       Dirut Telkom raih penghargaan “CEO Inovatif untuk Negeri”, 17 April 2013, http://www.telkomsolution.com/news/it-solution/dirut-telkom-raih-penghargaan-%E2%80%9Cceo-inovatif-untuk-negeri%E2%80%9D.

6.       Ellitan, Lena, 2006,  Strategi Inovasi dan Kinerja perusahaan Manufaktur di Indonesia: Pendekatan Model Simultan dan Model Sekuensial, Jurnal Manajemen, Vol. 6, No. 1, November.

7.       Hartini , Sri, 2012, Peran Inovasi: Pengembangan Kualitas Produk dan Kinerja Bisnis , Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Airlangga Surabaya , Jurnal Manajemen dan Kewirausahaan, Vol.14, No. 1, Maret, hal 63-90.

8.       Hadiyati , Ernani, 2011, Kreativitas dan Inovasi Berpengaruh Terhadap Kewirausahaan Usaha Kecil, Fakultas Ekonomi, Universitas Gajayana Malang,  Jurnal Manajemen dan Kewirausahaan, Vol.13, No. 1, Maret: 8-16.

9.       Hayes, M.A. Maidique R.H., The Art of High-Technology Management dalam Burgelman, Robert A.; Clayton M. Christensen; Steven C. Wheelwright; 2009, Strategic Management of technology and Innovation, 5th Edition, McGraw-Hill, p.226-236.

10.    Http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2013/03/05/19310981/PT.Semen.Indonesia.Cari.Inovasi.Demi.Hemat.Rp.639.Miliar, akses jam 17.45, 22 April 2013.

11.    KOMPAS, 2013, Wirausaha: Hadapi Globalisasi, Teruslah Berinovasi dan Kreatif, 29 April, hal.19.

12.    Patterson, Fiona; Máire Kerrin; Geraldine Gatto-Roissard, Characteristics & Behaviours of Innovative People in Organisations, City University, London

13.    Rahab, 2009, Hubungan Antara Karakteristik Teknologi Dengan Kemungkinan Usaha Kecil Untuk Mengadopsi Teknologi Informasi, Fakultas Ekonomi Universitas Jendral Soedirman Purwokerto,  Jurnal Bisnis dan Ekonomi (JBE), September 2009, Hal. 111 – 125 Vol. 16, No.2.

14.    Soleh, Mohamad, 2008, Analisis Strategi Inovasi dan Dampaknya Terhadap Kinerja Perusahaan (Studi Kasus : UKM Manufaktur di Kota Semarang) , Program Studi Magister Manajemen Program Pasca Sarjana, Universitas Diponegoro, Semarang.

15.    Patterson, Fiona; Máire Kerrin; Geraldine Gatto-Roissard, Characteristics & Behaviours of Innovative People in Organisations, City University, London.

16.    Perusahaan di Indonesia Harus Inovatif Hadapi Persaingan, 2011, 27 Juni, http://www.investor.co.id/home/perusahaan-di-indonesia-harus-inovatif-hadapi-persaingan/14907, akses 23 April 2013.

17.   Perusahaan Berbasis Inovasi Teknologi di Indonesia Hanya Dua Persen, 14 Juli 2011, http://www.suarapembaruan.com/home/perusahaan-berbasis-inovasi-teknologi-di-indonesia-hanya-dua-persen/8998, akses 23 April 2012 jam 9.45.

18.    Telkomsel Pertahankan Gelar The Best Innovative Operator of The Year, 13 Desember 2012,  http://www.telkomsel.com/about/news/929-Telkomsel-Pertahankan-Gelar-The-Best-Innovative-Operator-of-The-Year.html, akses 23 April 2013 jam 10.00.

*Catatan: untuk melengkapi pembahasan dalam paper ini maka materinya telah di update dengan materi yang lebih mutakhir lagi setelah penulisannya pertama kali pada tanggal 26 April 2013.

Lampiran

Berikut ini adalah informasi yang berkaitan dengan sumber daya manusia yang merupakan hasil penelitian Professor Fiona Patterson, Dr Máire Kerrin dan Geraldine Gatto-Roissard dari City University, London. Judul penelitian adalah Characteristics & Behavioursof Innovative People in Organisations.

Employee resources for innovation in organisations

 

At the person level we explore associations between innovation and (i) cognitive ability (ii)

personality (iii) motivation (iv) knowledge (v) behaviour (vi) emotion and mood states. Key

messages from this review include:

 

Intelligence is a necessary but not sufficient condition for innovation. Although

cognitive ability is related to innovation, it does not account for a large amount of the

variance observed in individual innovative performance.

• The most common personality trait associated with innovation is openness to

experience. Conscientiousness is found to be a negative predictor of innovation. The

influence of other personality traits (e.g. extraversion) is domain/context-dependent.

Motivation is likely to be the most important predictor of innovative working.

Management style significantly influences employee motivation to innovate. Innovative

people are intrinsically motivated by change such that extrinsic rewards do not

necessarily enhance innovation.

• Domain-specific knowledge is a key resource for innovation in organisations.

• Studies focusing on the employee behaviours associated with innovation, such as

‘personal initiative’, proactivity and social competence, contribute to our understanding

of individual-level innovation.

• The association between mood and innovation is complex and warrants further

investigation. Emotional Intelligence might be an important requisite for innovation but

its role is still relatively unexplored.

 

Work environment for innovation

 

Researchers have consistently identified several characteristics of work environments that

influence innovative working. In overview, research shows that a supportive and stimulating

work environment enhances idea generation and innovation. Various resources contribute to

this aspect including: supportive management practices and leadership, constructive

evaluation and feedback, supportive and stimulating co-workers. Key messages from our

research include:

Ambidexterity, a firm’s ability to simultaneously pursue exploration and exploitation

requires a set of complex individual and organisational characteristics including;

enriched jobs, shared vision and culture, trust, discipline, flexible/supportive leaders.

• Various team characteristics are identified as antecedents to innovation within

organisations (e.g. team climate, structure, processes and member characteristics).

Leaders play a decisive role in fostering and nurturing innovation within organisations.

Traits specifically related to the ability to lead for innovation include intelligence,

planning ability, problem-solving skills, and emotional intelligence. Important leader

behaviours include encouragement of risk-taking, an open style of communication,

participative/collaborative style, giving autonomy and freedom, support for innovation

(verbal and enacted), constructive feedback, and being optimistic about the future.

• The content, strength and density of social interactions within and outside the

organisation influence innovation. For example, the exposure to a variety of approaches

and perspectives is likely to facilitate cognitive processes related to creativity and

innovation.

• Moderate levels of job demands and time pressure predict individual innovation.

• A stimulating physical environment, which may include purpose-built innovation

laboratories, can provide work processes that enhance innovative working.

• The association between organisational structure and innovation is not straightforward

and it is difficult to generalise findings. Structures that may be conducive to idea

generation may inhibit implementation and vice versa. It is possible that

decentralisation at local level may promote the propensity to generate ideas (creativity)

whereas centralisation may be necessary for the effective implementation of ideas.

• An organisational culture that supports innovation encourages risk taking and the

exchange of ideas; promotes participation in decision-making; has clear goals and

rewards for innovation; provides psychological safety in relation to idea generation.

• Adequate resources are required for innovation but there appears to be a ceiling effect,

where more available resources do not significantly increase the potential to innovate.

Intrinsic rewards are a crucial aspect of individual innovation. The impact of extrinsic

rewards on employee motivation varies according to the type of extrinsic rewards

offered.

 

 

Posted in Uncategorized | Leave a comment

INOVASI DI INDONESIA: PRESTASI, PELUANG DAN TANTANGAN

 

1.    Pendahuluan

Tulisan ini dibuat sebagai bahan kuliah sekaligus materi pemikiran serta sebagai tantangan bagi semua pihak termasuk para mahasiswa Program Corporate Development ke empat di Institut Manajemen Telkom. Sebagai bagian dari civitas akademika IM Telkom maka kita bersama ditantang untuk terus maju memberikan peran yang lebih besar kepada masyarakat nasional dan global. Hal ini sejalan dan menunjang pasal 45 UU RI nomor 12 tahun 2012 tentang Pendidikan Tinggi1 dimana “Penelitian di Perguruan Tinggi diarahkan untuk mengembangkan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi, serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan daya saing bangsa.”

Harapan saya semoga secara bersama-sama dapat  mengevaluasi dan meningkatkan peran kita masing-masing untuk lebih produktif lagi termasuk perannya dalam inovasi baik secara langsung maupun tidak langsung, di tengah perkembangan pesat Indonesia diantara negara-negara maju yang sedang mengalami kesulitan ekonomi yang masih berlangsung saat ini  serta Asia yang mulai menjadi pusat kemajuan ekonomi dunia.

Dalam tulisan ini akan diberikan gambaran secara umum potret prestasi dan masalah inovasi negara kita. Sifat tulisan ini baru sekadar pengantar yang dapat dikembangkan lebih lanjut agar diperoleh gambaran secara komprehensif.

Sebelum masuk pada gambaran mengenai prestasi inovasi Indonesia, berikut ini akan disinggung sekilas mengenai konsep universitas riset yang erat kaitannya dengan inovasi. Disamping berbagai institusi riset lainnya, universitas riset merupakan salah satu institusi dalam sebuah negara yang menghasilkan inovasi termasuk di Indonesia.

 

2.    Kriteria Universitas Riset.

 

Tema mengenai universitas riset sangat relevan dengan tema inovasi dalam tulisan ini, apalagi bila dikaitkan dengan laporan World Bank mengenai “The Road to Academic Excellence: The Making of World-Class Research Universities. Laporan tersebut mengemukakan ada enam kecenderungan utama dalam abad ke 21 yang sedang terjadi pada pendidikan tinggi global dimana salah satunya adalah munculnya negara-negara Asia sebagai pusat-pusat akademik baru (academic centers). Bagi IM Telkom serta perguruan tinggi lainnya di bawah Yayasan Pendidikan Telkom maka tema dalam tulisan ini merupakan sebuah dorongan untuk menjadi bagian dari Asia yang sedang muncul ke tingkat global seperti yang disebut dalam laporan World Bank tersebut.

Inovasi sangat erat kaitannya dengan kegiatan riset. Salah satu yang melakukan riset adalah universitas. Saat ini banyak universitas di Indonesia yang menyatakan cita-citanya menjadi sebuah universitas riset. Hal ini sangat baik dalam mengembangkan daya saing nasional dan tentunya sesuai dengan tema tulisan ini.

Beberapa konsep universitas riset telah dikembangkan oleh berbagai pihak di dunia ini. Universitas-universitas di dunia mengembangkan dirinya menjadi universitas riset menggunakan berbagai kriteria yang telah dikembangkan tadi. Carnegi Classification 2005 menitikberatkan pada intensitas riset yang dilakukan oleh sebuah universitas. Demikian juga The Assosiation of East Asian Research Universities (AEARU) dan International Alliance of Research Universities (IARU) masing-masing telah mengeluarkan kriterianya sendiri. Sebagai gambaran beberapa universitas menggunakan apa yang sudah dikembangkan institusi yang disebutkan tadi. Kriteria  AEARU dipakai oleh Universitas Beijing, Universitas Tokyo dan Universitas Seoul sementara beberapa universitas lainnya seperti Australian National University, Oxford, Cambridge dan NUS menggunakan IARU2.

The Academic Ranking of World Universities (ARWU)2 yang dikembangkan oleh Shanghai Jiao Tong University menggunakan indikator jumlah penghargaan Nobel yang diperoleh alumni dan staff pengajar, jumlah publikasi jurnal ilmiah dan jumlah jurnal yang dikutip serta performansi per kapita. Selain itu The Higher Education Evaluation and Accreditation Council of Taiwan (HEEACT)2  menggunakan  indikator produktivitas penelitian, pengaruh penelitian (jumlah pengutipan penelitian), serta jumlah publikasi jurnal dalam jangka waktu tertentu. Times Higher Education (THE)2mengeluarkan lima kategori yang mencakup perbandingan pendapatan institusi yang berasal dari penelitian dengan partner industri dengan jumlah staf akademik; lingkungan belajar-mengajar yang terdiri dari rasio dosen dan mahasiswa; jumlah publikasi universitas yang dikutip akademisi; jumlah, pendapatan, dan reputasi penelitian; rasio staff internasional dan domestik serta rasio mahasiswa international dan domestik.

Di Amerika Serikat performansi universitas dinilai berdasarkan sembilan kriteria utama3 yaitu: Total Research, Federal Research, Endowment Assets, Annual Giving, National Academy Members, Faculty Awards, Doctorates Granted, Postdoctoral Appointees, dan SAT scores.

Dikaitkan dengan situasi di Indonesia, konsep universitas riset dapat dilihat sebagai sebuah cita-cita untuk menjadikan riset sebagai ujung tombak Tridharma Perguruan Tinggi dengan mewujudkan research based teaching serta research based public service/community engagement1.  Dalam hal ini riset yang dihasilkan di PT digunakan oleh para dosen dalam memberikan materi pelajaran di kelas kepada para mahasiswanya. Selain itu, riset-riset yang dilakukan di PT dimanfaatkan pula dalam kegiatan pengabdian kepada masyarakat atau juga melakukan riset pada kegiatan tersebut. Agar nyata manfaatnya maka perlu disadari oleh peneliti di universitas, materi riset sebaiknya berorientasi pada kebutuhan masyarakat.

 

3.    Cita-Cita Universitas Riset di Indonesia.

 

Banyak perguruan tinggi baik negeri maupun swasta di Indonesia yang memiliki cita-cita menjadi universitas riset. Namanya bervariasi seperti world class university, entrepreneurial university, centre of excellence dan lain-lain dimana di dalam nama yang dipakai tersebut sudah terkandung maksud besarnya peranan riset yang akan dijalankan oleh perguruan tinggi tersebut.

Dalam  Rencana Jangka Panjang UNPAD periode tahun 2007 – 20263 dengan visi “Menjadi Universitas Unggul dalam Penyelenggaraan pendidikan Tinggi Kelas Dunia” maka pada periode 2012 – 2016 UNPAD bercita-cita untuk menjadi Universitas Riset dan Pelayanan Bermutu (Research and Excellent Teaching University). Demikian juga di UI yang telah menetapkan target yang berhubungan dengan riset sangat besar seperti tercantum dalam KPI riset UI (2012-2017) pada tabel 1 dan 22.

 

                                 Tabel 1. Indikator Utama Kinerja Kunci2

No

Substansi

1

Penambahan minimal 50 artkel pada jurnal internasional yang terindeks SCOPUS

2

Persentase anggaran riset 1% pertahun

3

Kolaborasi internasional mengalami kenaikan minimal 30% dari jumah yang dicapai di tahun sebelumnya.

                         Sumber: UI,2012, Arah dan kebijakan Research University

                             Tabel 2. Indikator Pendukung Utama Kinerja Kunci2

No

Substansi

1

Mencapai dan mempertahankan tingkat kompetisi hibah sebesar 1:3

2

Pencapaian dan mempertahankan seluruh seri jurnal Makara menjadi jurnal internasional

3

Menyelenggarakan pelatihan minimal 10 per tahun yang berkaitan dengan riset dan pengaabdian pada masyarakat

                        Sumber: UI,2012, Arah dan kebijakan Research University

Pada tahun 1990 PT. Telkom telah mendirikan Sekolah Tinggi Teknologi Telkom (STT Telkom) dan MBA Bandung yang fokus dalam bidang telekomunikasi dengan cita-cita menjadi center of excellent dalam bidang pendidikan teknologi dan manajemen telekomunikasi di Indonesia. Dalam perkembangannya, saat ini PT. Telkom melalui Yayasan Pendidikan Telkom telah memiliki empat PT yaitu Institut Teknologi Telkom (semula STT Telkom), Institut Manajemen Telkom (Berasal dari MBA Bandung), Politeknik Telkom dan STISI Telkom dengan hampir 18.000 mahasiswa. Saat ini, keempat PT tersebut sedang dalam proses penggabungan menjadi satu universitas yang diarahkan menjadi world class university. Dalam hal ini peranan riset akan menjadi andalan universitas ini sejalan dengan tuntutan industry ICT nasional dan global.

4.        Bagaimana Prestasi Inovasi Indonesia?

 

Berikut ini diperlihatkan kemampuan inovasi secara nasional, sekaligus diperlihatkan beberapa faktor yang dapat menggambarkan performansi riset serta kualitas pendidikan secara umum. Yang menarik juga diketahui bagaimana posisi Indonesia diantara negara-negara lainnya. Dalam laporan The World Economic Forum mengenai The Global Competitiveness Report 2011-20124 dapat disampaikan sepuluh indikator posisi Indonesia relatif terhadap 142 negara yang di survei. Pada tabel 3 digambarkan posisi lima negara ASEAN sekitar Indonesia. Indonesia termasuk dalam kelompok peringkat 50 besar untuk indikator kapasitas inovasi (Capacity of Innovation/CI), Pengeluaran Perusahaan untuk Riset & Pengembangan (Company spending on R&D /CSR&D), kolaborasi universitas-industri dalam Riset & Pengembangan (University-industry collaboration in R&D/UICR&D) serta kualitas sistem pendidikan (Quality of The Educational System/QES). Sementara itu untuk indikator kualitas pendidikan matematika dan sains (Quality of math and science education/QMSE), kualitas sekolah manajemen (Quality of management schools/QMS) serta kualitas lembaga penelitian ilmiah (Quality of Scientific Research Institutions/QSRI), Indonesia menempati Peringkat 50-70. 

 

Tabel 3 Rangking Lima Negara ASEAN Berdasarkan Bidang

No

Negara

QES

QMSE

QMS

IU

BIS

IB

CI

QSRI

CSR&D

UICR&D

1

Singapore

2

1

8

25

21

7

22

12

10

6

2

Malaysia

14

23

27

40

62

60

19

24

13

21

3

Indonesia

44

53

68

117

103

108

30

55

31

41

4

Thailand

77

60

73

93

77

83

56

59

68

39

5

Philippines

61

115

55

88

88

76

95

106

85

83

      Sumber: Klaus Schwab, 2011, The Global Competitiveness Report 2011-2012, World Economic Forum, Geneva,

                    Switzerland.

 

Khusus untuk indikator informasi teknologi baik dari segi Internet Bandwith (IB), Broadband Internet Subscribers (BIS) dan Internet Bandwith (IB) Indonesia menempati peringkat di atas 100.

Jadi kapasitas inovasi Indonesia termasuk tinggi yaitu pada ranking ke 30 di antara 142 negara-negara yang disurvei. Demikian juga dengan aspek pengeluaran perusahaan untuk riset & pengembangan menempati ranking ke 31. Jadi secara umum Indonesia sudah memiliki kompetensi yang memadai dalam riset dan inovasi. Hal ini juga di dukung oleh kemauan kolaborasi antara universitas dan industri. Namun bila di bandingkan dengan dua Negara tetangga yaitu Singapura dan Malaysia, Indonesia masih harus banyak dan rajin mengerjakan berbagai pekerjaan rumahnya. Cita-cita menjadi universitas riset seperti yang banyak ditunjukkan oleh perguruan tinggi Indonesia merupakan salah satu usaha mendorong prestasi inovasi agar lebih tinggi lagi.

Wakil Rektor Institut Pertanian Bogor Anas M Fauzi menyatakan “Indonesia menempati urutan ke-100 dalam indeks inovasi global pada 2012 sementara Singapura di urutan ke-3, Malaysia ke-32, dan Thailand ke-57. Indeks tersebut adalah kombinasi dari masukan yaitu antara lain kemampuan sumber daya manusia dan riset & pengembangan, serta keluaran berupa kemampuan menghasilkan produk yang dapat diserap pengguna.”5

Dalam konteks ASEAN khususnya menyongsong terbentuknya ASEAN Community pada tahun 2015 maka posisi daya saing Indonesia yang masih jauh dari negara-negara tetangga akan menyulitkan barang-barang dan jasa nasional bersaing nantinya. Wakil Ketua Umum Kadin Bidang Usaha Mikro Kecil dan Menengah dan Koperasi Erwin Aksa mengatakan “Pelaku usaha kecil dan menengah merupakan pihak pertama yang akan terkena dampak akibat kekalahan daya saing menghadapi produk impor. Ini menjadi catatan bagi Kadin untuk terus mengupayakan peningkatan kapasitas dan efisiensi UKM Indonesia, terutama menghadapi pasar tunggal ASEAN 2015.”5

Apa yang telah disampaikan diatas merupakan laporan badan internasional yang diperoleh dari sebuah survei pendapat beberapa responden di Indonesia. Berikut ini dapat dilihat data-data lainnya dari beberapa pihak yang relevan untuk melengkapi gambaran mengenai inovasi di Indonesia. Pada dasarnya negeri kita sudah menghasilkan berbagai inovasi dalam berbagai bidang. Sebagai contoh pada data yang ditampilkan oleh Kementerian Riset dan Teknologi, sejak tahun 2008 hingga 2012 yang masuk dalam riset unggulan berkisar pada angka 100 inovasi.6 Jika dilihat angkanya belum ada peningkatan yang berarti. Tidak jelas betul apakah memang yang masuk daftar dibatasi sekitar 100 buah saja. Namun saya memperkirakan banyak inovasi yang dihasilkan oleh putra putri Indonesia.

Dari sisi perguruan tinggi, Universitas Gadjah Mada Yogyakarta menawarkan 300 inovasi dan hasil riset kepada industri dan Badan Usaha Milik Negara untuk dikelola dan dikembangkan dalam rangka peningkatan daya saing industri. Beberapa inovasi dan hasil riset UGM yang ditawarkan di antaranya bidang industri kesehatan dan obat-obatan, ketahanan pangan, sumber energi baru dan terbarukan, teknologi dan manajemen transportasi, teknologi pertahanan dan keamanan, dan teknologi informasi dan komunikasi.7 Sementara itu Rektor IPB, Prof. Dr.Ir. Herry Suhardiyanto, M.Sc Selama 5 tahun ini, dari 510 inovasi Indonesia paling prospektif menurut Kementerian Riset dan Teknologi RI, sebanyak 179 inovasi berasal dari IPB. Dari dua perguruan tinggi negeri besar tersebut, memang nampaknya sebagian perguruan tinggi kita sudah menghasilkan inovasi.

Banyak perguruan tinggi nasional yang berusaha mengembangkan inovasi termasuk mengembangkan hubungan dengan industri dan pemerintah. Berikut ini akan dibahas mengenai usaha-usaha yang dilakukan oleh Bandung Techno Park.

 

 

 

5.        Bandung Techno Park: Menunjang Universitas Riset.

 

Pada tahun 2007, Institut Teknologi Telkom didukung oleh Departemen Perindustrian mendirikan Unit Pelaksanaan Teknis Teknologi Informasi&Komunikasi (UPT-TIK) yang bertugas membina industri kecil dan menengah yang bergerak dalam bidang TIK di kota Bandung dan sekitarnya. Kemudian melihat tantangan yang dihadapi oleh PT, industri TIK dan pemerintah, UPT tersebut dikembangkan lebih lanjut dengan tugas dalam bidang riset teknologi informasi dan komunikasi. Pada tahun 2010, UPT TIK diubah namanya menjadi Bandung Techno Park (BTP). Seperti digambarkan pada gambar 1, BTP berperan sebagai katalisator dalam hubungan antara akademisi, bisnis/industri dan pemerintah. Secara keseluruhan ada 8 fokus bidang kegiatan BTP, yakni: Research and Development (R&D), Consultancy, Certification, Facility Provider, Business Mediation, Information Distribution, dan Production Support.

Gambar 1. Peran Bandung Techno Park

 

Lokasi BTP berada di kawasan Pendidikan Telkom, Jalan Telekomunikasi Terusan Buah Batu, Bandung. Salah satu kegiatan yang telah dilaksanakan oleh Bandung Techno Park adalah  ICT Forum Indonesia-Korea pada 22-23 Januari 2013 dengan dukungan Kementrian Perindustrian dan Kementrian Riset dan Teknologi yang mengusung bidang kerjasama bilateral diberbagai bidang  pengembangan riset industri serta pengembangan Science Technology Park.  Adapun area riset industri yang menjadi target kerjasama meliputi bidang LED, Mobil listrik, Smart Building dan science and Technology park (STP)8 

 

 

Model Techno Park di atas sebagai bagian dalam membentuk universitas riset di bawah Yayasan Pendidikan Telkom masih berkembang dan akan banyak mengalami berbagai ujian di dalam proses perkembangannya tersebut. Sumber daya manusia yang menjadi penggerak utama BTP adalah para Dosen yang berasal dari PT yang berada di bawah yayasan. Selain itu, BTP juga mengangkat beberapa peneliti tetap. Dosen maupun peneliti tersebut antara lain berasal dari alumni Perguruan Tinggi di bawah yayasan.

Peran yang dijalankan oleh BTP adalah:

-          Banyak penelitian yang dilakukan di PT tidak link and match dengan kebutuhan industri sehingga hanya menjadi dokumen saja. BTP berperan mengadakan pengembangan lebih lanjut hasil penelitian PT untuk industri.

-          Menambah pengalaman dosen/peneliti dalam berinteraksi dengan industri.

-          Menjadi mediator antara PT dengan industri maupun pemerintah dan lembaga riset lainnya.

-          Memberi masukan masalah-masalah yang dapat dijadikan topik dan bahan riset PT.

-          Merupakan tempat latihan riset bagi mahasiswa.

Lokasi BTP berada di kawasan Pendidikan Telkom, Jalan Telekomunikasi Terusan Buah Batu, Bandung. Salah satu kegiatan yang telah dilaksanakan oleh Bandung Techno Park adalah  ICT Forum Indonesia-Korea pada 22-23 Januari 2013 dengan dukungan Kementrian Perindustrian dan Kementrian Riset dan Teknologi yang mengusung bidang kerjasama bilateral diberbagai bidang  pengembangan riset industri serta pengembangan Science Technology Park.  Adapun area riset industri yang menjadi target kerjasama meliputi bidang LED, Mobil listrik, Smart Building dan science and Technology park (STP)8 

 

6.    Peluang dan Tantangan Inovasi di Indonesia.

 

Sesungguhnya peluang untuk melakukan inovasi di Indonesia sangat besar. Dengan pertumbuhan ekonomi Indonesia sekitar enam persen dewasa ini serta kaya akan masalah-masalah yang harus dipecahkan dalam berbagai bidang maka peluang inovasi sangat besar. Ambil contoh beberapa hal yang mendesak untuk diatasi secara nasional seperti masalah ketahanan energi, pangan dan masalah kependudukan. Dengan jumlah penduduk yang besar yaitu sekitar 240 juta jiwa yang tersebar di seluruh Nusantara maka hal ini menunjukkan besarnya masalah yang dihadapi oleh Indonesia. Ini merupakan peluang untuk melakukan banyak inovasi karena kebutuhannya sangat besar.

Banyak tantangan yang dihadapi para peneliti maupun para pengambil keputusan di Indonesia dalam meningkatkan inovasi nasional termasuk di perguruan tingginya. Beberapa hal diantaranya dibahas berikut ini. Wakil Rektor Institut Pertanian Bogor Anas M Fauzi menyatakan “perlunya perhatian serius di sisi hulu, terutama terkait dukungan anggaran kegiatan riset dan pengembangan. Masalah lain yang dihadapi dalam mengimplementasikan inovasi di Indonesia adalah ketidakselarasan antara penyedia dan kebutuhan pengguna.”5  Berdasarkan laporan Bank Dunia, alokasi anggaran riset dan pengembangan di Indonesia pada 2008 hanya 0,08 persen dari produk domestik bruto (PDB) sementara  Jepang mengalokasikan 3,45 persen dari PDB untuk kegiatan riset dan pengembangan. Sementara itu Ekonom PT. Bank Mandiri Tbk., Destry Damayanti menyatakan “Rendahnya global competitiveness Indonesia antara lain disebabkan faktor edukasi dan efisiensi.12

Inovasi dapat diharapkan muncul dari penelitian mahasiswa S3. “Dalam konteks research university, peran mahasiswa S3 sebagai peneliti full-timer menjadi kunci. Di dalam konteks ini mahasiswa S3 tidak hanya sebagai mahasiswa biasa, tapi juga peneliti yang bekerja bersama dengan dosen pembimbingnya. Di berbagai perguruan tinggi terkemuka mahasiswa S3 menjadi tulang punggung riset.”10 Jadi sangat penting meningkatkan kualitas riset mahasiswa S3 jika Indonesia ingin meningkatkan produktifitas inovasinya.

Dalam melakukan riset, PT tidak selalu menjadi penyedia dana utama. PT dapat melakukan kerjasama dengan industri dalam melakukan riset untuk pengembangan industri itu sendiri. Pranowo6 mengemukakan “Lima prinsip kolaborasi perguruan tinggi dengan industri yaitu membangun kepercayaan (trust building), kesetaraan (equal position), kemanfaatan bersama (mutual benefit), menjaga dan menunjang komitmen (keeping and upholding commitment), dan kejelasan dan kepastian kontrak kerjasama.” Kedua pihak harus dapat mengembangkan ke lima factor tersebut bersama-sama agar kerjasama menjadi lebih produktif. Kolaborasi antara universitas dengan industri dalam Riset & Pengembangan seperti yang ditunjukkan dalam laporan The World Economic Forum diatas menjadi modal dasar untuk terus meningkatkan kerjasama di antara pihak-pihak yang berkepentingan tersebut.

Sesungguhnya baik universitas maupun industri memiliki keunggulan maupun karakteristiknya masing-masing yang dapat bermanfaat bagi masing-masing pihak. Karakteristik masing-masing yang menyulitkan kolaborasi dapat diselaraskan melalui komunikasi dan kerjasama yang saling menguntungkan. Dalam hal ini Pranowo6 menyampaikan “Sisi mudah kolaborasi PT – Industri yaitu PT sebagai merek yang bermutu, upaya industri untuk unggul dalam persaingan pasar membutuhkan PT, Pemerintah mendorong kerjasama PT-Industri lewat berbagai skema insentif seperti Rusnas, Rapid, atau PP 28 tahun 2007. Sisi lainnya yang sulit adalah kultur PT masih belum kompatibel dengan kultur industri, koordinasi intern PT antar unit kerja belum tertata dan berjalan baik, serta peraturan pemerintah yang berkaitan dengan kerjasama universitas dengan industri belum di operasionalkan secara utuh.” Dalam hal ini kedua pihak dapat juga secara kontinyu memberikan masukan kepada pemerintah untuk meningkatkan produktifitas kolaborasi tersebut.

Tentu saja di sisi lain banyak usaha-usaha yang bisa dilakukan untuk meningkatkan produktifitas inovasi nasional. Selama ini baik Pemerintah melalui berbagai badan riset, kementerian dan lain-lainnya serta industri telah menghasilkan berbagai inovasi yang telah dimanfaatkan oleh banyak pihak di dalam dan luar negeri. Namun yang harus diperhatikan adalah posisi relatif Indonesia yang masih banyak ketinggalan dibandingkan Negara-negara lainnya termasuk ASEAN. Apalagi sebentar lagi pada tahun 2015 akan dibuka masyarakat ASEAN yang tentunya berdampak langsung kepada Indonesia baik dalam bentuk peluang-peluang bisnis maupun tantangan atau ancaman bagi ekonomi nasional.

Terkait usaha untuk meningkatkan inovasi nasional, Ketua LP3E Kadin Indonesia Prof. Didik J Rachbini5 mengingatkan “Perlunya solusi untuk menjembatani melimpahnya hasil inovasi agar dapat terserap dan dimanfaatkan oleh dunia usaha.5 Sejalan dengan pendapat tersebut, bila dikaitkan dengan UKM, Erwin Aksa5 menekankan “Pentingnya  bagi Kadin untuk terus mengupayakan peningkatan kapasitas dan efisiensi UKM Indonesia, terutama menghadapi pasar tunggal ASEAN 2015. Semua pihak perlu terus mendorong inovasi agar dapat diterima dan diimplementasikan oleh pelaku UKM untuk meningkatkan daya saing.” Memang sekarang semua pihak telah merasa pentingnya meningkatkan daya saing karena situasi yang makin terbuka sebagai dampak globalisasi yang terus berkembang, termasuk ke ASEAN. Hal ini ditegaskan pula oleh Ekonom PT Bank Mandiri Tbk. Destry Damayanti yang menyampaikan “Dalam dunia bisnis perlu terus dilakukan inovasi yang berkelanjutan. Salah satu alasan inovasi harus perlu terus dikembangkan adalah karena Indonesia merupakan salah satu negara tujuan investasi terbesar di dunia.12

Selain itu Indonesia juga perlu secara sistematis mengembangkan basis ekonominya. Dalam kaitan tersebut sangat menarik apa yang disampaikan Rektor IPB, Prof. Dr.Ir. Herry Suhardiyanto, M.Sc dimana “Ekonomi saat ini masih berupa jual produk ekstrasi dari alam. Ke depan harus menuju ke arah pengolahan dan menggunakan sistem ekonomi yang dikemudikan oleh hasil-hasil inovasi bangsa. Yang perlu dilakukan sekarang adalah implementasi nyata ke masyarakat. Untuk mewujudkan hal ini dibutuhkan insentif dari pemerintah agar pengusaha tidak ragu untuk melirik inovasi-inovasi yang dihasilkan oleh perguruan tinggi.  Biasanya mereka takut rugi karena masuk ke ranah baru.”11 Jadi peran semua pihak seperti pemerintah, industri, erguruan tinggi, badan-badan riset serta berbagai komunitas sangat perlu di sinergikan agar diperoleh kekuatan nyata nasional. Kiranya perlu usaha proatif yang lebih giat lagi dibandingkan masa sebelumnya. Jika tidak dilakukan maka orang lain dari luar negeri akan banyak mengambil kesempatan bisnis di dalam negeri. Mari kita meningkatkan perannya masing-masing.

 

7.        Penutup

Secara umum produktifitas inovasi Indonesia masih harus ditingkatkan agar tidak ketinggalan dari Negara-negara ASEAN lainnya terutama yang sudah maju. Banyak usaha yang sedang dan akan dilakukan oleh Pemerintah, industry dan berbagai komunitas lainnya. Peran universitas riset dapat meningkatkan produktifitas inovasi Indonesia dalam rangka mengembangkan daya saing nasional. Pembentukan Telkom University merupakan salah satu partisipasi industri khususnya PT. Telkom dalam memperbaiki kualitas riset dan inovasi nasional.

 

–00–

Sumber:

1.       Undang-Undang republic Indonesia Nomor 12 Tahun 2012 Tentang Pendidikan Tinggi, 10 Agustus 2012.

2.       Universitas Indonesia, 2012, Arah dan Kebijakan untuk research University, Gelar Ilmu UI 2012, 12 September, Universitas Indonesia, Depok.

3.       UNPAD, 2012, Rencana Strategis Universitas Padjadjaran 2012-2016, Ringkasan, Bandung, 11 September, Bandung

4.       Schwab, Klaus, 2011, The Global Competitiveness Report 2011-2012, World Economic Forum, Geneva, Switzerland.

5.       Urutan Ke-100, Inovasi Indonesia Jauh di Bawah Singapura, Rabu, 6 Maret , http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2013/03/06/07443723/Urutan.Ke-100.Inovasi.Indonesia.Jauh.di.Bawah.Singapura, akses 17 april 2013 jam 16.05.

6.       http://bic.web.id/login/inovasi-indonesia-unggulan, akses 17 April 2012 jam 16.00

7.       http://indonesiarayanews.com/news/sainstek/12-05-2012-09-53/ugm-tawarkan-hasil-inovasi-dan-riset-ke-bumn.

8.       http://www.bandungtechnopark.com/news

9.       Ekonom: Inovasi bisnis di Indonesia masih kurang, 15 April 2013, http://nasional.kontan.co.id/news/ekonom-inovasi-bisnis-di-indonesia-masih-kurang, akses 17 April 2013 jam 16.25.

10.    UGM, 2012, Menuju Research University : Bagaimana peran program S3?, Diskusi Kebijakan Pendidikan,  2 November 2012, Yogyakarta.

11.    Perlu Adanya Sosialisasi Hasil Inovasi IPB Kepada Pengusaha , Selasa, 09 Oktober 2012, http://www.fateta.ipb.ac.id/index.php/Berita-Terbaru/perlu-adanya-sosialisasi-hasil-inovasi-ipb-kepada-pengusaha.

12.    Ekonom: Inovasi bisnis di Indonesia masih kurang, 15 April 2013, http://nasional.kontan.co.id/news/ekonom-inovasi-bisnis-di-indonesia-masih-kurang, akses 17 April 2013 jam 16.25.


 

LAMPIRAN 1

Dalam laporan World Economic Forum mengenai The Globa Competitiveness Report 2011-20124 dapat disampaikan sepuluh indikator keadaan Indonesia relatif terhadap 142 negara yang di survei sebagai berikut:

1.       Quality of the educational system.

How well does the educational system in your country meet the needs of a competitive economy?(1=not well et all;7=very well)

Rank

Country/Economy

Value

1

Switzerland

5.9

2

Singapore

5.9

14

Malaysia

5.1

44

Indonesia

4.2

61

Philippines

3.8

77

Thailand

3.6

142

Yemen

1.7

 

2.       Quality of math and science education.

How would you access the quality of math and science education in your country’s schools?(1=poor;7=excellent-among the best in the world)

Rank

Country/Economy

Value

1

Singapore

6.4

2

Belgium

6.3

23

Malaysia

5.0

53

Indonesia

4.3

60

Thailand

4.2

115

Philippines

3.1

142

Angola

1.5

 

3.       Quality of management schools.

How would you access the quality of management or business schools in your country? (1=poor;7=excellent-among the best in the world).

Rank

Country/Economy

Value

1

Belgium

6.1

2

United Kingdom

6.0

8

Singapore

5.6

27

Malaysia

5.0

55

Philippines

4.4

68

Indonesia

4.2

73

Thailand

4.1

142

Angola

1.8

 

4.       Internet Users

Percentage of individuals using the internet/2010

 

Rank

Country/Economy

Value

1

Iceland

95.0

2

Norway

93.4

25

Singapore

70.0

40

Malaysia

55.3

88

Philippines

25.0

93

Thailand

21.2

117

Indonesia

9.1

142

Timor-Leste

0.2

 

5.       Broadband Internet subscriptions.

Number of fixed broadband internet subscription per 100 population/2010

 

Rank

Country/Economy

Value

1

Switzerland

38.2

2

Netherlands

38.0

21

Singapore

24.7

62

Malaysia

7.3

88

Philippines

25.0

77

Thailand

3.9

103

Indonesia

0.8

142

Haiti

0.0

 

6.       Internet bandwidth.

International internet bandwidth (kb/s)/capita/2010

 

Rank

Country/Economy

Value

1

Hong Kong SAR

474.3

2

Iceland

276.4

7

Singapore

122.2

60

Malaysia

6.4

76

Philippines

2.7

83

Thailand

2.3

108

Indonesia

0.3

Posted in Uncategorized | Leave a comment